RADARSOLO.COM - Di tengah keramaian historis Taman Fatahillah, Kota Tua Jakarta, sebuah kisah haru tentang kesetiaan pada seni dan hubungan guru-murid akan mencapai puncaknya. Rabu (26/11/2025) malam itu, Jakarta Pantomime Festival 2025 menjadi saksi kuatnya ikatan antara Dian Primadyka, 35, dan Hendro Prihoetomo (Endoh), 54. Mereka akan tampil di hadapan ratusan pasang mata, bukan lagi sebagai guru dan murid, melainkan sebagai seniman pantomime yang setara.
Festival berskala nasional yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan dan Perkumpulan Seniman Pantomime Indonesia itu menjadi reuni yang dinanti.
Pertemuan pertama Dian dan Endoh terjadi puluhan tahun silam, saat Dian masih berstatus siswa di SLB B YAAT Solo, sekolah khusus bagi penyandang bisu-tuli. Sementara Endoh adalah guru ekstrakurikuler yang mengajar seni bisu-gerak (mime) di sana.
Meskipun Dian lahir dengan keterbatasan fisik, semangatnya untuk berinteraksi tak pernah padam. Justru kondisi itu yang menuntunnya pada seni pantomime.
"Kenal pantomime sejak SD dan langsung suka," kata Dian saat ditemui di Sondakan, Laweyan, di tengah proses latihannya. "Saya pengin belajar pantomime karena bisa membantu saya berinteraksi dengan banyak orang."
Kesungguhan itu berbuah manis. "Alhamdulillah sejak itu sering ikut lomba dan sering juara 1, 2, dan 3 untuk pentas pantomime," tambahnya.
Endoh, lulusan Jurusan Tari ISI Solo era 90-an, menjadi saksi hidup perjalanan muridnya itu. Ia melihat ada bakat dan kemauan kuat dalam diri Dian, sehingga ia tak ragu mendampinginya. Hasilnya, Dian menjadi langganan juara hingga lulus SMA pada 2012.
"Kami baru hilang komunikasi itu setelah Dian lulus SMA, kebetulan saya juga lebih banyak mengajar Pantomime di Wonogiri sejak itu," ujar Endoh, mengenang masa-masa perpisahan mereka.
Meski kini disibukkan sebagai karyawan batik di Kampung Batik Laweyan, kecintaan Dian pada dunia mime tak pernah surut. Warga Sondakan ini tetap konsisten menggeluti seni peran sunyi tersebut.
Bahkan, Dian yang memiliki keterbatasan interaksi verbal, kini justru aktif mengajar. Ia menjadi guru untuk Solo Mime Community dan tenaga pengajar ekstrakurikuler pantomime di SLB YRTRW Solo.
"Saya merasa senang ketika seorang seperti saya ini bisa memunculkan gerakan dan ekspresi yang lucu. Ini membantu seorang sunyi seperti saya untuk berinteraksi dengan banyak orang baik dalam suatu pentas maupun dalam sehari-hari," ungkap Dian.
Kegemarannya menonton karya Charlie Chaplin sejak kecil menumbuhkan mimpi besar. Kini, tawaran pentas di Jakarta Pantomime Festival 2025 menjadi kesempatan emas untuk menambah pengalaman dan berinteraksi dengan seniman dari berbagai penjuru negeri.
"Lewat pantomime saya belajar berinteraksi, belajar soal alur cerita, belajar soal sinopsis," katanya. "Ke depan saya pengin seni pantomime di Solo bisa terus berkembang, muncul seniman hebat dari Solo, dan Solo bisa menjadi tempat penyelenggaraan festival Mime yang besar di Indonesia.”
Semangat menggebu-gebu dari mantan muridnya itulah yang menjadi magnet bagi Endoh. Setelah sempat vakum dan lebih banyak di balik layar, Endoh terkejut dan takjub melihat keseriusan Dian.
"Saya melihat anak ini ada bakat dan berkemauan kuat untuk mendalami seni ini. Makanya saya senang untuk mendampingi dia," Endoh.
Bagi Endoh, pentas di panggung yang sama bersama Dian Primadyka adalah sebuah kehormatan. Murid yang dulu ia latih kini sudah berdiri sebagai rekan yang sepadan, membuat Endoh tak bisa berhenti memberi apresiasi tertinggi.
Pada pentas di Taman Fatahillah, mereka akan membawakan cerita tentang kepahlawanan, sebuah pertemuan tak terduga di halte bus antara seorang pemuda dan orang tua yang ternyata seorang superhero. Kisah ini seolah merefleksikan hubungan mereka: seorang guru dan murid yang bertemu kembali, kini sama-sama menjadi pahlawan di panggung seni bisu.
"Jakarta Pantomime Festival ini adalah festival pantomime pertama di Indonesia yang berskala nasional. Tentu tidak semua orang bisa terlibat di dalamnya," tutup Endoh. Keduanya siap mengubah Taman Fatahillah menjadi panggung sunyi yang penuh makna. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno