RADARSOLO.COM - Di antara riuh sorak masyarakat, gemuruh denting gamelan carabalen yang menghentak, dan hiruk pikuk agung iring-iringan Jumenengan, berdiri satu sosok yang tak pernah absen memimpin barisan Keraton Kasunanan Surakarta.
Mengenakan seragam prajurit lengkap yang gagah, menyandang terompet kuningan di tangan, langkahnya mantap, mengawali setiap gerakan barisan. Sosok itu adalah KRAT Rajono Yudonagoro, 73, sang Komandan Utama Prajurit Keraton Solo.
Nama Rajono mungkin tak setenar para bangsawan Keraton, namun hampir semua prosesi adat besar—dari Malam 1 Sura yang sunyi hingga Sekaten yang ramai—tak akan berlangsung sempurna tanpa kehadirannya. Dialah komandan tertinggi keprajuritan, yang bertanggung jawab memastikan disiplin, ritme langkah, dan keamanan kirab berjalan penuh martabat.
“Kalau sudah kirab, kaki itu seperti otomatis melangkah. Irama gamelan memimpin raga kami,” ujarnya suatu ketika, sorot matanya menerawang jauh, seolah mendengar kembali musik keraton yang sakral.
Rajono tidak berasal dari garis keturunan prajurit. Jalan pengabdiannya justru berawal dari dunia seni. Tahun 1978, saat ia masih menimba ilmu di Akademi Seni Gamelan (ASG) yang lokasinya bersebelahan dengan keraton, sebuah kesempatan emas terbuka, yaitu perekrutan prajurit bagi mereka yang mahir musik.
Keprajuritan kala itu membutuhkan musisi perkusi dalam barisan Bregodo. Karena sudah akrab dengan karawitan sejak remaja, Rajono tak ragu melamar.
“Saya pikir, kalau bisa musik ya bisa jadi prajurit. Dan ternyata cocok,” kenangnya sambil tersenyum, mengenang masa muda yang memilih jalur tak terduga.
Ia memulai dari bawah, sebagai prajurit biasa di kesatuan Bregodo, jajaran prajurit musik perkusi. Tahun-tahun awal ia lewati sebagai anak buah, di bawah komando beberapa pemimpin yang berganti seiring waktu.
“Komandan saya berganti karena banyak yang meninggal. Saat itu saya belum pernah membayangkan akan berada di posisi teratas,” tuturnya pelan.
Rajono telah mengabdi melalui tiga era kekuasaan Raja Keraton Solo, mulai dari PB XII hingga kini PB XIV berkuasa. Setelah 26 tahun pengabdian tanpa putus, barulah pada 2004 ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Utama Prajurit Keraton Solo. Tahun ini, ia menandai 47 tahun perjalanan pengabdiannya yang panjang.
Di bawah komandonya, terdapat sembilan kesatuan prajurit, dengan spesialisasi masing-masing, termasuk Tamtomo, Sorogeni, dan Bregodo tempat ia memulai dulu. Meskipun Kerajaan telah lama meninggalkan era perang, tugas prajurit tidak luntur, melainkan bertransformasi.
Kini, fungsi utama prajurit adalah pengamanan internal Keraton, pengamanan rute upacara, serta yang paling utama. Cucuk lampah (penunjuk jalan), sebuah mandat langsung dari Raja. Inilah alasan Rajono, sebagai komandan tertinggi, selalu berdiri di posisi paling depan barisan.
Meski mengabdikan diri kepada Keraton, para prajurit tidak bertugas penuh waktu. Mereka adalah warga biasa yang bekerja sesuai profesi masing-masing—Rajono sendiri adalah penabuh gamelan profesional.
“Ya ketika dipanggil Raja, kami tinggalkan pekerjaan. Karena ini bukan sekadar tugas, tapi rasa hormat,” jelasnya, sebuah prinsip yang menuntut kesetiaan tanpa syarat.
Banyak orang mengira prajurit keraton harus memiliki kemampuan bela diri super. Rajono membenarkan daya tahan fisik itu penting, namun ia menekankan itu bukan hal utama. Justru, syarat utama menjadi prajurit adalah pemahaman akan Budaya Jawa, tata krama, adat istiadat, serta rasa terhadap irama.
“Prajurit berjalan itu harus tahu irama. Gamelan carabalen dan musik drum itu untuk mengatur langkah prajurit. Kalau tidak tahu irama, barisan akan rusak,” urai Rajono.
Selain keahlian khusus seperti musik dan seni, setiap prajurit wajib dilatih tata batin. Menurut Rajono, ketahanan fisik perlu diseimbangkan dengan ketenangan hati.
“Kirab bisa beberapa kilometer. Kalau tidak dilandasi keteguhan batin, tidak kuat,” ujarnya, menggambarkan dimensi spiritual di balik seragam prajurit yang gagah.
Ketika ditanya sampai kapan ia akan bertugas, Rajono tersenyum kecil. Selama tubuh masih sanggup berdiri tegak, ia ingin tetap berada di barisan terdepan.
“Selama saya masih kuat dan keraton masih membutuhkan, saya akan tetap jadi prajurit,” ucapnya, sebuah janji pengabdian yang abadi di tengah hiruk pikuk modernisasi Kota Solo. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno