RADARSOLO.COM - Selasa pagi kemarin (16/12/2025), halaman Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Mlese, Ceper, Klaten, mendadak pecah oleh sorak-sorai ratusan siswa. Suasana riuh itu bukan tanpa alasan. Di depan mereka, berdiri seorang pria bersahaja yang membawa seekor monyet bulu berwarna cokelat. Namun, keajaiban terjadi saat monyet itu mulai "berbicara" dengan suara nyaring, sementara bibir pria di sampingnya sama sekali tidak bergerak.
Pria itu adalah Muh Ngirhashon, seorang penyuluh agama dari KUA Jatinom yang lebih akrab disapa Kak Irhas. Boneka monyet di tangannya ia beri nama Mocu—akronim dari Monyet Lucu. Dengan keterampilan ventrilokuisme atau seni suara perut, Kak Irhas menciptakan dialog jenaka yang menyisipkan pesan-pesan moral mendalam kepada anak-anak.
Pagi itu, Kak Irhas memang diundang untuk mengisi acara wisuda Iqra. Namun, panggung dakwah boneka ini sebenarnya sudah ia geluti sejak 2018, merambah mulai dari sekolah, majelis taklim, hingga bangsal narapidana di Lapas Kelas IIB Klaten.
Keahlian unik ini membawa Kak Irhas meraih predikat Juara I kategori metode penyuluhan baru pada ajang Penyuluh Agama Islam (PAI) Awards 2025 tingkat Jawa Tengah. Lulusan Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini mengaku ide menggunakan boneka datang dari sejarah besar Islam di tanah Jawa.
“Saya melihat tokoh terdahulu, Sunan Kalijaga, yang sangat mahir menggunakan media wayang untuk masuk ke hati masyarakat,” ujar Kak Irhas saat ditemui radarsolo.com di tengah keriuhan MIM Mlese.
Ia ingin mengisi ruang dakwah kontemporer dengan sesuatu yang relevan. Jika tahun 90-an kita mengenal Ria Enes dan Susan sebagai hiburan, Kak Irhas mengambil selangkah lebih maju. “Bagaimana boneka itu juga bisa menjadi sarana dakwah untuk menyadarkan seseorang,” tegasnya.
Mocu hanyalah satu dari lima "personel" tim dakwahnya. Kak Irhas memiliki karakter lain yang disesuaikan dengan audiens. Mbah Imanto, sosok orang tua ceplas-ceplos untuk menasihati sesepuh di majelis taklim. Si Komat, remaja laki-laki saleh untuk membahas isu kenakalan remaja di sekolah. Burung Ababil, karakter yang rajin berzikir dan Nina yang berperan sebagai sosok wanita salihah.
Uniknya, karakter Mbah Imanto sering menjadi "tameng" bagi Kak Irhas saat harus menyampaikan kritik atau nasihat keras kepada orang tua.
"Secara pribadi, saya mungkin tidak berani bicara blak-blakan. Tapi lewat Mbah Imanto, audiens malah merasa enjoy dan tidak tersinggung. Durasi pengajian yang panjang pun jadi tidak terasa,” tuturnya sambil terkekeh.
Keahlian suara perut ini didapatkan Kak Irhas secara otodidak. Ia melatih otot perut dan tenggorokannya dengan menirukan suara tokoh kartun populer seperti Patrick, Squidward, hingga Tuan Krab dari serial SpongeBob SquarePants untuk menarik perhatian anak-anak.
Namun, aset utamanya ini menuntut perawatan ekstra. “Kalau pakai suara serak jangan over. Saya juga harus mengurangi gorengan dan es agar performa suara tetap terjaga,” ungkapnya rahasia.
Tak puas hanya di panggung fisik, Kak Irhas kini merambah dunia digital melalui Facebook dan TikTok. Rencana besarnya ke depan adalah menciptakan serial kartun dengan berbagai karakter yang seluruh suaranya di-dubbing oleh dirinya sendiri.
Melalui boneka-bonekanya, Kak Irhas membuktikan bahwa menyampaikan kebenaran tidak harus kaku. Dengan sedikit kreativitas dan kasih sayang, pesan langit bisa membumi dengan cara yang menghibur dan menyentuh jiwa. (ren/bun))
Editor : Kabun Triyatno