RADARSOLO.COM - Detik-detik terakhir di SAT Extreme Sports Park, Rajamangala, Minggu (14/12), terasa seperti keabadian bagi kontingen Indonesia. Di tengah sorakan pendukung tuan rumah, seorang pemuda asal Karanganyar berdiri di ujung lintasan dengan papan skate-nya.
Basral Graito Hutomo berada dalam posisi terjepit, menempati peringkat keempat menjelang percobaan terakhir, ia memikul beban sebagai penentu medali emas ke-39 untuk Merah Putih.
Namun, di saat tekanan memuncak, Basral justru tampil sedingin es. Dengan kontrol papan yang presisi, ia meluncur, melompat, dan menuntaskan trik pamungkasnya tanpa cela. Skor langsung melonjak ke angka 166,67, melompati dua atlet Thailand dan memastikan podium tertinggi. Basral bukan hanya meraih emas, ia menggetarkan arena SEA Games 2025.
Siapa sangka, sang jawara Asia ini mengawali mimpinya dari papan skate seharga lima ribu rupiah yang dibeli di pasar. Jauh sebelum ia mendapat apresiasi dari pelatih Malaysia dan Thailand di Bangkok, Basral adalah bocah yang hanya bisa meniru gerakan YouTube di depan rumahnya di Klipan, Colomadu.
“Dulu papan pertama itu beli di pasar, murah sekali. Baru pas ulang tahun, Bapak beliin papan bekas tapi roda dan besinya baru,” kenang Basral mengenai masa-masa ia harus berbagi satu papan dengan sang kakak.
Latihan kerasnya di jalanan Karanganyar sempat mengundang ejekan. Saat duduk di kelas 4 SD, sepatu Warrior hitam putihnya bolong-bolong akibat gesekan papan setiap hari. “Woi, sepatunya bolong!” kenang Basral menirukan ejekan teman-temannya. Namun, luka di hati itu ia ubah menjadi energi. Kini, emas di lehernya menjadi jawaban telak atas segala cemoohan masa lalu.
Keberhasilan Basral adalah buah dari kasih sayang luar biasa sang ayah, Suranto, 55. Di masa kecil Basral, Suranto rela memboncengkan anaknya menempuh perjalanan Solo-Jogja seminggu sekali hanya untuk mencari skatepark yang layak. Mereka sering pulang menembus dini hari, dan Basral harus tetap masuk sekolah meski kelelahan.
Dukungan sang ayah bahkan melampaui urusan teknis. Saat pihak sekolah sempat mengancam tidak menaikkan kelas karena Basral memilih fokus Pelatnas SEA Games 2019, Suranto-lah yang pasang badan.
“Waktu itu saya yang maju. Saya bela anak saya,” tegas Suranto. Basral pun kini menempuh pendidikan jalur Paket C demi mengejar karier profesionalnya.
Sejarah kemudian membuktikan pilihan mereka benar. Basral pulang membawa medali perak dari Filipina untuk Indonesia. Dari bonus medali yang ia terima, ia tidak membeli barang mewah. Basral justru membangun sebuah skatepark sederhana di lahan sekitar satu kilometer dari rumahnya di Colomadu. Peralatannya mungkin seadanya, namun di sanalah ia terus memoles trik baru.
Puncaknya di final SEA Games 2025 Thailand, dominasi Basral terlihat nyata meski sempat tertinggal. Ia mengungguli skater tuan rumah Kirin Petikiree (153,22 poin) dan Thawatchai Siangoueng (152,31 poin). Bahkan, rekan senegaranya, Sanggoe Darma Tanjung, harus puas di peringkat keempat.
Kemenangan dramatis ini membuktikan bahwa Basral telah naik level. Sempat pesimis saat bertanding di Dubai setahun sebelumnya, nasihat sang ayah menjadi jangkar mentalnya. “Umurmu masih muda. Masih banyak waktu.”
Kini, remaja kelahiran 22 Januari 2007 itu telah membuktikan diri. Dengan emas di tangan, Basral tetaplah sosok yang bersahaja. Ia masih memegang mimpi mulianya: membangun rumah untuk orang tuanya dan menyisihkan sebagian bonusnya untuk anak yatim. Dari papan murah dan sepatu bolong, Basral Graito Hutomo kini telah melompat menuju puncak dunia. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno