RADARSOLO.COM Siapa yang tidak kenal batik, warisan dunia ini sudah diakui oleh UNESCO. Namun lembaran kain tak akan berubah menjadi batik tanpa bantuan canting. Namun sayang, perajinnya kini mulai punah. Tinggal satu orang yang setia menjadi pengrajin canting di Kota Bengawan.
Di balik lorong sempit RT 01 RW 04 Kelurahan Joyontakan, Serengan, suara denting logam terdengar pelan. Bau asap patri bercampur aroma kopi pagi menyatu di udara. Di teras rumah sederhana itulah Purwanto, 61, menghidupkan tradisi yang nyaris lenyap dari Kota Solo membuat canting batik secara manual.
Tangannya yang keriput tetap lincah memegang lembaran tembaga. Api kecil dari tungku tradisional terus menyala, seolah menjadi simbol tekadnya menjaga warisan leluhur. Di kota yang dikenal sebagai pusat batik, Purwanto kini menjadi satu-satunya pengrajin canting yang tersisa.
“Ini sudah generasi keempat. Dari buyut, simbah, bapak, lalu ke saya,” katanya pelan saat ditemui
Ia bercerita, keluarga besarnya dulu bermula di Stabelan. Kemudian berpindah ke Kauman, kampung batik legendaris, sebelum akhirnya menetap di Joyontakan dan aktif memproduksi canting sejak era 1980-an.
“Dulu di sini banyak pengrajin. Semuanya masih satu aliran darah. Sekarang tinggal saya sendiri,” ujarnya lirih.
Joyontakan pernah menjadi salah satu sentra perajin canting. Di setiap rumah terdengar suara palu dan api patri. Anak-anak tumbuh dengan bau tembaga dan lilin batik. Namun waktu perlahan menggerus. Perajin satu per satu berhenti. Regenerasi tak berjalan. Kini suara logam hanya terdengar dari rumah Purwanto. “Kami generasi terakhir. Tidak ada penerus,” katanya.
Membuat canting bukan sekadar kerajinan tangan. Prosesnya panjang dan rumit, terdiri dari sembilan tahapan. dari mencari bahan, membentuk cucuk, menyambung gagang, hingga finishing.
“Yang paling sulit itu di patri. Dibakar dengan tungku sangat panas. Ada teknik khusus. Tidak semua orang bisa. Nah pas dipatri itu, saya menggunakan kotoran ular, supaya tembaganya tidak rusak. Itu resep dari buyut saya terdahulu,” jelasnya.
Dulu, Purwanto memiliki sekitar sembilan pekerja. Namun setiap orang hanya menguasai satu tahapan. “Saya beda. Karena dulu bukan tukang, tapi membantu sambil sekolah. Jadi saya belajar semuanya,” kenangnya sambil tersenyum.
Pagi ia bekerja, siang sekolah, malam kembali membantu orang tua. Dari situ, ia menguasai seluruh proses produksi canting dari bahan mentah hingga pemasaran. “Itu mungkin rencana Tuhan. Kalau saya hanya tukang satu bagian, mungkin sudah punah,” katanya.
Sebenarnya, Purwanto memiliki tiga anak. Namun Semuanya memilih profesi lain dan sudah mapan. “Yang bungsu kerja di Solo, lulusan administrasi negara. Yang kedua dan satu lagi kerja di Gresik. Sudah mapan semua. Jadi rasanya tidak mungkin ada penerus dari keluarga,” tuturnya.
Ia memahami pilihan anak-anaknya. Kerajinan canting terlalu rumit, tidak instan, dan kalah dengan dunia kerja modern. “Ini manual dan rumit. Anak muda tidak tertarik,” ujarnya.
Sebelum pandemi, usaha cantingnya masih cukup hidup. Namun pandemi memperparah kondisi pasar. Meski begitu, pelanggan setia tetap datang. Sebagian besar perajin batik sepuh dari luar kota seperti Ponorogo, Wonogiri, hingga Jogjakarta.
“Pelanggan bapak dulu masih hidup. Kami tidak mau mengecewakan mereka,Mulai sepi sebelum pandemi, tapi setelah pandemi makin terasa,” katanya.” ujarnya tegas.
Karena masih memiliki pelanggan tetap, Purwanto tetap memproduksi canting setiap hari, meski sendirian. Dia tak mau keteteran ketika tiba-tiba pesanan datang. “Kalau nunggu pesanan baru bikin, nanti kacau. Kami komitmen setiap hari bekerja supaya kalau ada bakul datang, barang sudah siap,” katanya.
Membuat canting bukan pekerjaan yang bisa dihitung per jam atau per hari. Satu kilogram tembaga bisa memakan waktu satu minggu hingga sepuluh hari. “Kalau satu kilo jadi sekitar seribu canting. Tapi tidak bisa dihitung per hari karena ada sembilan tahapan,” jelasnya.
Ada satu yang menjadi beban pikiranya. Yaitu Harga bahan baku pun terus naik. Enam ons tembaga kini mencapai Rp 240 ribu. “Harga tembaga mengikuti dolar dan emas. Harapan saya ada subsidi bahan baku atau harga bisa ditekan,” harapnya.
Di usia senja, Purwanto tak berhenti berinovasi. Ia membuat berbagai kerajinan dari canting butannya, mulai gantungan kunci, miniatur rumah joglo, hingga suvenir. “Kami juga masuk ke handicraft. Sekarang banyak pesanan rumah joglo mini. Sayang kendalanya tidak ada tenaga kerja,” katanya.
Hari-hari Purwanto berjalan sederhana. Pagi membaca koran, mandi, lalu bekerja hingga siang atau malam. Tungku kecil di belakang rumahnya tetap menyala, namun nyaris tanpa suara bising seolah tradisi itu berusaha bertahan tanpa mengganggu zaman yang berisik. “Apapun yang terjadi, kami harus bertahan. Itu komitmen kami,” katanya.
Harapan Purwanto kini bertumpu pada rencana pelatihan pembuatan canting yang diinisiasi Kelurahan Joyontakan bersama RT dan kelompok masyarakat. “Sudah diprogramkan pelatihan supaya tidak punah. Tinggal pelaksanaannya,” katanya.
Ia percaya setiap manusia punya potensi keterampilan. Asalkan mau ulet dan telaten, pasti mampu menjadi pengrajin baru. “Tidak ada yang sulit. Yang susah itu menumbuhkan kemauan dan keteladanan,” ujarnya.
Di Kota Solo yang dikenal sebagai Kota Batik, Purwanto berdiri sebagai penjaga sunyi sebuah warisan. Di tangannya, canting bukan sekadar alat, tetapi simbol peradaban, sejarah, dan identitas.
Api kecil di tungkunya mungkin terlihat sederhana. Tapi di sanalah sejarah empat generasi terus menyala, di tangan seorang lelaki tua yang menolak menyerah pada waktu. “Kalau saya berhenti, selesai sudah. Maka selama saya masih bisa, saya akan terus membuat canting,” katanya.
Di Joyontakan, di tengah gang sempit dan rumah-rumah padat, suara palu Purwanto masih berdentang. Menjadi denyut terakhir sebuah tradisi yang pernah berjaya dan kini bertahan lewat satu nama. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno