RADARSOLO.COM - Ketika matahari mulai tergelincir ke ufuk barat di Kota Solo, sebuah aroma khas menyeruak dari dapur Masjid Jami Assagaf. Wangi tajam jahe, kapulaga, cengkih, dan kayu manis yang berpadu dengan kafein seolah menjadi lonceng penyambut bagi ratusan jamaah yang datang. Di sini, secangkir kopi rempah bukan sekadar minuman penghilang dahaga, melainkan "napas" tradisi yang telah terjaga selama hampir satu abad.
Selama puluhan tahun, tradisi ini telah menjadi identitas yang melekat erat pada masjid tua tersebut. Kopi rempah menjadi simbol pelayanan tulus pengurus masjid kepada siapa pun yang datang bersujud.
Dahulu, kopi rempah adalah sajian wajib bagi mereka yang sanggup melawan kantuk demi salat Subuh berjamaah. Namun, fleksibilitas pengurus masjid dalam menjaga tradisi patut diacungi jempol. Saat Ramadan tiba, tradisi ini tidak mati, melainkan bertransformasi.
“Tradisi kopi rempah di waktu Subuh dipindah untuk menu berbuka puasa. Karena di pagi Subuh bulan Ramadan tidak ada makan dan minum, maka sajian ini menjadi daya tarik tersendiri saat berbuka,” ungkap Abdurrahman bin Umar Assegaf, pengurus Masjid Jami Assagaf.
Jika kopi rempah saat Subuh sudah berusia seabad, tradisi penyajiannya sebagai menu berbuka puasa sendiri telah berjalan sekitar 60 tahun. Dimulai dari kelompok kecil jamaah yang bersahaja, kini kegiatannya telah tumbuh menjadi perjamuan besar yang dinanti-nanti warga se-Solo Raya.
Geliat kesibukan di Masjid Jami Assagaf saat Ramadan memang luar biasa. Setiap hari, para relawan bahu-membahu menyiapkan 950 porsi nasi untuk jamaah laki-laki, perempuan, hingga anak-anak. Angka ini terus meningkat dari tahun ke tahun, seiring dengan semakin terkenalnya keramahan masjid ini.
Suasana saat azan berkumandang selalu mengharukan. Jamaah duduk berderet dengan rapi, menghadap takir atau piring nasi, namun mata mereka sering kali tertuju pada segelas kopi rempah hangat di sampingnya. Bagi banyak orang, tegukan pertama kopi ini membawa ketenangan spiritual sekaligus kebugaran fisik setelah seharian menahan lapar.
Meski memegang teguh warisan leluhur, pengurus Masjid Jami Assagaf tidak menutup mata terhadap perkembangan zaman. Mereka sadar bahwa untuk menarik minat generasi muda agar mencintai masjid, diperlukan inovasi yang segar.
“Insyaallah setiap waktu dan setiap tahun, seiring berkembangnya zaman, kita akan ada ide-ide inovasi baru untuk menarik minat jamaah hadir di masjid, baik dari segi kuliner maupun kegiatan lainnya,” ujar Abdurrahman dengan nada optimistis.
Bagi warga Solo, Masjid Jami Assagaf bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah ruang temu budaya dan rasa. Di balik uap kopi rempah yang membumbung di udara setiap magrib, ada nilai kebersamaan yang terus diwariskan—bahwa kehangatan agama dapat dirasakan melalui secangkir minuman yang dibuat dengan cinta dan doa. (hj/bun)
Editor : Kabun Triyatno