RADARSOLO.COM - Di sebelah timur riuh rendah aktivitas pom bensin Pabelan, Kartasura, sebuah angkringan sederhana berdiri tegak di bawah temaram lampu jalan. Sekilas, tempat ini tampak seperti wedangan pada umumnya. Namun, aroma tajam yang menguar dari kepul uapnya bercerita lain. Di sini, Dwi Zimbahwe sedang meruntuhkan sekat-sekat mahal yang selama ini mengurung kenikmatan secangkir kopi berkualitas.
Sejak 2016, Dwi memutuskan untuk melakukan "revolusi" kecil di lapak wedangannya yang sudah berdiri sejak 2010. Ia tak lagi sekadar menyeduh jahe atau teh, tapi mulai menghadirkan berbagai varian kopi daerah untuk warga pinggiran.
Langkah Dwi bermula dari sebuah kegelisahan sederhana. Ia adalah pecinta kopi yang sadar bahwa harga segelas kafein di kafe modern—yang rata-rata dibanderol Rp 20 ribu—terlalu mewah bagi kantong warga biasa.
"Saya ingin menyediakan kopi untuk warga yang ingin mengenal kopi dengan harga murah," tuturnya dengan nada rendah hati.
Bagi Dwi, kopi bukan soal gaya hidup kaum elite, melainkan hak bagi semua kalangan untuk menikmatinya. Dahulu, ia hanya menyediakan kopi Temanggung. Namun, berkat jejaring media sosial dengan para petani nusantara, kini deretan stoples kacanya penuh dengan harta karun. Mulai dari Papua, Banyuwangi, Malang, Lawu, hingga Aceh. Semuanya ia sajikan dengan harga yang sangat bersahabat. Robusta dibanderol Rp 5.000 dan Arabika hanya Rp 8.000.
Bisnis kopi Dwi menemukan momentumnya saat pandemi Covid-19. Di tengah kesulitan ekonomi, angkringannya justru menjadi tempat pelarian yang terjangkau. Menariknya, pelanggan setianya bukan hanya anak muda yang sibuk dengan gawai, tapi juga para lansia.
"Ada pelanggan saya yang usianya sudah 70 tahun, setiap hari datang. Mereka sangat senang dengan kopi yang saya sajikan," cerita Dwi.
Bagi para pemula yang takut dengan rasa pahit yang ekstrem, Dwi punya strategi khusus. Ia biasanya menyodorkan varian yang lebih soft seperti Excelca agar lidah mereka terbiasa dengan karakter kopi asli sebelum beralih ke varian yang lebih kuat.
Pada 2025 membawa tantangan baru bagi Dwi. Fenomena El Nino membuat harga biji kopi Robusta meroket hingga tiga kali lipat karena stok dalam negeri yang menipis. Kondisi ini memaksanya untuk sedikit menyesuaikan harga, meski hatinya berat.
Namun, prinsip hidup pria ini tetap teguh. Baginya, angkringan ini lebih dari sekadar urusan laba. "Saya tidak terlalu memikirkan untung rugi, karena jualan bagi saya juga bagian dari sedekah," ungkapnya.
Kekuatan Angkringan Pabelan bukan hanya terletak pada racikan kopinya, melainkan pada atmosfir yang dibangun Dwi. Senyum yang selalu siaga dan obrolan yang hangat membuat pelanggan merasa sedang menyeruput kopi di beranda rumah sendiri. (rif/bun)
Editor : Kabun Triyatno