RADARSOLO.COM - Berawal dari sebuah tugas dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Adinda Cantika Lestari bersama tiga rekannya, perlahan membangun sebuah ruang kreatif tersebut. Apa yang semula hanya sebatas proyek kampus, kini menjelma menjadi ruang alternatif bagi anak muda Solo untuk menyalurkan kreativitas sekaligus melepas penat dari rutinitas.
Adinda mengenang, di awal perjalanan, Innerheart Studio bukanlah sesuatu yang langsung mendapat perhatian. Minimnya peminat sempat menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan bekal keyakinan dan konsistensi, ia memilih untuk tetap melanjutkan.
“Awalnya dari proyek kampus, tapi setelah itu aku melihat potensinya. Sayang kalau tidak diteruskan. Jadi aku lanjutkan dari 2023 sampai sekarang,” ujarnya saat ditemui.
Keputusan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang Innerheart Studio. Bersama rekan-rekannya yang juga berasal dari jurusan seni murni, Adinda mulai merintis berbagai kegiatan kreatif dalam skala kecil. Mereka menyasar kalangan pelajar hingga mahasiswa yang membutuhkan ruang berekspresi di luar aktivitas akademik.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan! Gunung Lawu Pernah Meletus 25 Hari Tanpa Henti: Ini Kisahnya
Innerheart Studio kemudian berkembang dengan konsep yang sederhana namun dekat dengan anak muda. Tidak hanya menghadirkan kegiatan melukis dan menggambar, mereka juga membuka berbagai aktivitas lain seperti seni grafis, merajut, hingga kelas privat. Semua dikemas dalam suasana santai, tanpa tekanan, dan lebih mengedepankan pengalaman.
Menariknya, Innerheart Studio tidak memiliki tempat tetap. Alih-alih membuka studio permanen, Adinda justru memilih untuk berpindah-pindah lokasi, memanfaatkan ruang publik seperti kafe dan taman kota.
“Biasanya kami cari tempat yang santai, seperti kafe atau taman. Jadi lebih fleksibel dan nggak kaku,” jelasnya.
Konsep ini membuat Innerheart terasa lebih dekat dan inklusif. Siapa saja bisa bergabung tanpa harus merasa terikat dengan suasana formal seperti di studio pada umumnya. Bahkan, pendekatan ini justru menjadi daya tarik tersendiri di kalangan anak muda yang cenderung menyukai aktivitas kasual.
Dalam perjalanannya, Innerheart Studio terus berinovasi. Salah satu langkah penting terjadi pada 2023, saat Adinda menciptakan produk turunan bernama Inn-SketchBox. Ide ini muncul dari keinginannya untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di tengah tren karya seni yang mulai menjamur.
Awalnya, ia sempat terpikir untuk membuat artwork stiker dengan sistem penjualan biasa. Namun, ia merasa konsep tersebut sudah cukup umum. Dari situ, ia mulai mencari pendekatan baru hingga akhirnya terinspirasi untuk menggabungkan konsep live sketch dengan pengalaman interaktif layaknya photobox.
Meski demikian, perjalanan Innerheart Studio tidak selalu berjalan mulus. Status Adinda dan tim yang masih mahasiswa membuat pengelolaan waktu menjadi tantangan tersendiri. Kegiatan seperti workshop dan kelas seni pun sering kali harus menyesuaikan dengan jadwal kuliah.
“Kadang memang tersendat karena kami masih kuliah. Jadi biasanya kegiatan lebih sering diadakan saat libur sekolah atau momen tertentu,” katanya.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat mereka. Justru, respons positif dari peserta menjadi motivasi utama untuk terus bergerak. Banyak peserta yang kembali mengikuti kegiatan, bahkan menunggu jadwal berikutnya.
Bagi Adinda, Innerheart Studio bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi juga ruang untuk membangun relasi. Ia ingin setiap orang yang datang tidak hanya mendapatkan pengalaman, tetapi juga merasa nyaman dan terhubung satu sama lain.
“Harapannya, yang datang bisa sama-sama have fun, nggak canggung, dan bisa ketemu lagi di kegiatan berikutnya,” tuturnya.
Ke depan, Adinda berencana untuk mengembangkan Innerheart Studio dengan menghadirkan lebih banyak kegiatan kreatif. Ia juga membuka kemungkinan untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk menghadirkan konsep yang lebih luas agar Innerheart semakin dikenal. (atn)
Editor : Kabun Triyatno