RADARSOLO.COM - Suasana Pamedan Mangkunegaran malam itu terasa berbeda. Gelak tawa terdengar dari berbagai sudut halaman. Sejumlah orang tampak berlari menghindari lawan dalam permainan gobak sodor, sementara di sisi lain beberapa peserta bergantian melompati tali yang terus dinaikkan.
Tak jauh dari sana, sekelompok peserta duduk saling berhadapan memainkan dakon dan bekel. Di petak-petak engklek, langkah kaki silih berganti disertai sorak sorai para pemain. Menariknya, hampir tidak ada satu pun yang sibuk menatap layar telepon genggam.
Mereka adalah peserta Balik Dolanan Solo, sebuah komunitas yang mengajak masyarakat kembali memainkan permainan tradisional yang dahulu akrab dengan masa kecil. Kegiatan ini rutin digelar setiap Jumat di Balai Kota Solo. Tetapi, karena balai kota sedang digunakan untuk penyelenggaraan sebuah pagelaran, aktivitas sementara dipindahkan ke Pamedan Mangkunegaran. Komunitas ini terbuka bagi siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Di balik ramainya suasana itu, ada keresahan sederhana yang menjadi awal berdirinya Balik Dolanan Solo. Pendiri komunitas tersebut, Andi Abu Saman atau yang akrab disapa Andias mengaku sering merindukan masa-masa bermain bersama teman. Sayangnya, ketika beranjak dewasa, waktu luang semakin sulit ditemukan, teman-teman memiliki kesibukan masing-masing, dan ruang bermain pun perlahan menghilang.
“Kenapa tercipta untuk Balik Dolanan? Dari keresahan saya dan teman-teman yang udah dewasa pengen main lagi tapi nggak punya temen. Teman ada, tetangga tapi waktunya udah beda. Maksudnya, framenya udah beda, mereka udah punya kesibukan masing-masing. Oke, kalaupun ketemu, tempatnya nggak ada. Nah itu, jadi makanya Balik Dolanan Solo hadir untuk menciptakan wadah, ruang, momen, waktu, temen, semua bisa langsung join di Balik Dolanan Solo karena aktivasi kita di ruang-ruang publik gitu,” ujar pria 32 tahun ini.
Dari keresahannya itu, Andias mulai memberanikan diri untuk membentuk komunitas Balik Dolanan. Proses yang dilaluinya pun tidak mudah. Mulai dari mengurus administrasi ke RT dan RW setempat, kecamatan, Pemkot Solo melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo hingga akhirnya turun surat keputusan (SK) yang dia lakukan sendiri.
“Prosesnya itu satu harian full, saya cuti dari kantor karena perizinan itu kan harus ada sekretariatnya yaa. Jadi, saya izin RT/RW setempat terus ke kelurahan, kecamatan, terus masuk ke pemkot, terus diarahin ke Disbudpar, setelah ke Disbudpar ya udahlah itu berhasil turunlah itu SKnya tapi nunggu, masih nunggu seminggu,” ungkap pria asal Jakarta itu.
Stadion Manahan menjadi lokasi pertama Balik Dolanan Solo menggelar aktivitas. Alih-alih langsung dipenuhi peserta, Andias justru harus bermain seorang diri. Orang-orang yang melintas hanya memperhatikan dari kejauhan tanpa berani bergabung. Di sisi lain, teman-teman yang membantunya mengelola komunitas juga memiliki jadwal yang tidak selalu sama.
Baca Juga: Cara Hafid Mahmudi “Kipli” Buktikan Anak Punk Solo Mampu Hidup Mandiri.
“Tantangan ada, tantangan kaya awal-awal aktivasi, orang-orang cuman ngeliatin. Apalagi karakter temen-temen di Solo, mungkin kalo nggak kita datengin dia agak sungkan. Bahkan saya juga sempet waktu itu aktivasi di Stadion Manahan, awal-awal, bener-bener sendiri. Sebab, saya juga nggak mau maksa temen-temen. Meski ada temen kantor juga yang jadi pengurus (Balik Dolanan) tapi saya nggak mau maksa mereka terlibat,” kenangnya.
Perlahan, perjuangan itu mulai membuahkan hasil. Setelah beberapa kali berpindah lokasi, mulai dari Stadion Manahan, Lokananta, hingga akhirnya menetap di Balai Kota Solo, Balik Dolanan Solo semakin dikenal masyarakat. Berbagai unggahan di media sosial yang menampilkan keseruan para peserta berhasil menarik perhatian warganet dan beberapa kali masuk ke beranda media sosial.
Dampaknya terasa nyata. Banyak orang meminta dibuatkan grup WhatsApp agar dapat mengetahui jadwal kegiatan berikutnya. Kini, grup tersebut telah beranggotakan hampir 300 orang dari berbagai daerah di sekitar Solo Raya.
“Nah, yang menariknya, begitu pecah dan FYP yang kemarin di balaikota, mereka request minta grup, bikin grup WA dan sekarang hampir 300. Terus yang bikin saya haru, di grup itu waktu mau ke sini, mereka pada ngebahas titik kumpul. Colomadu mana, Karanganyar mana, kaya mau nonton bola. Itu yang bikin saya haru banget, effortnya mereka keren banget,” tuturnya.
Mayoritas peserta yang hadir merupakan anak muda. Di tengah padatnya aktivitas kuliah, pekerjaan, dan rutinitas yang lekat dengan layar gawai, Balik Dolanan Solo menjadi ruang untuk beristirahat sejenak dari dunia digital. Mereka datang bukan sekadar untuk memainkan permainan tradisional, tetapi juga mencari pengalaman yang mulai jarang ditemui: bertemu orang baru, bergerak bersama, dan kembali merasakan keseruan masa kecil.
Baca Juga: Bukan Sekadar Ramalan, Primbon Kini Jadi Rujukan Gen Z hingga Perekrutan Karyawan Perusahaan
Wahyu Nur Alia, mahasiswi semester enam salah satu perguruan tinggi swasta di Solo ini mengatakan, baru pertama kali mengikuti kegiatan tersebut setelah melihat unggahan Balik Dolanan Solo di Instagram. Baginya, permainan tradisional menjadi cara sederhana untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas perkuliahan. Ia juga mengaku lebih menikmati aktivitas fisik dan interaksi langsung dibanding terus menerus memegang telepon genggam.
Pengalaman serupa dirasakan Nurzian Bintani, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Solo asal Kendal yang sedang merantau di Solo. Ia sengaja datang untuk menghabiskan sisa masa tinggalnya di Kota Bengawan dengan pengalaman yang berbeda. Menurutnya, permainan tradisional membuat tubuh benar-benar bergerak dan menghadirkan keseruan yang tidak bisa diperoleh saat bermain gim di ponsel.
“Kalau main di hp tuh banyak diemnya, maksudnya badannya paling cuman guling-guling, geser-geser. Tapi kalau ini kan tangannya bener-bener gerak, kita bener-bener mengekspresikan apa yang kita rasakan gitu jadi lebih seru,” tutur Bian.
Baca Juga: Cara Airell Luthfan-Naufal Sa’ad Hidupkan Sejarah Kolonial lewat Klaten Lampau
Hal senada disampaikan Anggara Putra, mahasiswa asal Ponorogo. Kerinduannya terhadap masa kecil membawanya datang ke Balik Dolanan. Ia mengaku kesulitan menemukan teman bermain setelah beranjak dewasa karena masing-masing telah memiliki kesibukan sendiri. Meski baru pertama kali mengikuti kegiatan ini, Rangga berhasil berkenalan dengan peserta lain dan berencana kembali pada pertemuan berikutnya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa permainan tradisional kini bukan hanya menjadi sarana bernostalgia, tetapi juga membuka ruang untuk membangun relasi baru.
“Sebenarnya kangen masa-masa kecil dulu. Kan, dulu waktu kecil mainan kaya gini sama temen-temen kan, terus ketika udah besar kan temen-temennya udah sendiri-sendiri, udah misah-misah gitu, terus bingung mau cari temen di sini terus ya udah datang ke sini aja,” cerita mahasiswa yang akrab disapa Rangga.
Menariknya, Balik Dolanan Solo tidak hanya dipenuhi anak muda. Orang tua pun turut hadir bersama keluarganya. Salah satunya Adi Perdana, pria berusia 35 tahun yang sedang bekerja di Solo. Baginya, kegiatan tersebut bukan hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga menjadi cara memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak yang tumbuh di era digital.
“Untuk kaum-kaum muda juga, untuk mengingat, merefresh juga, apa namanya, kaya kesannya permain-permainan yang kesannya jadul, karena kan untuk saat ini kan Gen Z semuanya kan beralih ke digital jadi dengan masih adanya ini kan mengingatkan untuk permainan tradisional dan ngasih tau juga ke anak “ini loh permainan yang langsung bukan digital”, “ujar Adi.
Ke depan, Balik Dolanan Solo tidak ingin sekadar menjadi komunitas bermain. Andias memiliki mimpi yang lebih besar, yakni menggelar pemecahan rekor MURI melalui permainan engklek massal. Ia berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa bermain bukanlah aktivitas yang dibatasi usia.
“Kalau target awal di satu atau dua tahun ke depan, pengen bikin rekor muri untuk bermain engklek. Terus harapanku juga siapapun, anak kecil, remaja, orang dewasa, mereka masih berhak bermain.” pungkas Andias.
Malam semakin larut. Permainan satu per satu berakhir, tetapi halaman Pamedan Mangkunegaran belum benar-benar sepi. Sebagian peserta masih bercengkerama, bertukar cerita, bahkan berjanji untuk kembali bertemu pada Jumat berikutnya. Di tengah dunia yang semakin akrab dengan layar, Balik Dolanan Solo membuktikan bahwa tawa paling riuh justru lahir ketika gawai disimpan sejenak dan permainan masa kecil kembali dimainkan bersama.
Editor : Kabun Triyatno