RADARSOLO.COM - Tirai beludru merah panggung legendaris Wayang Orang Sriwedari perlahan tersingkap pada malam itu. Namun, sorot lampu follow-light malam itu tidak sedang mengunci gerak tubuh para aktor profesional.
Di bawah konde, mahkota ksatria, dan lilitan kain dodot yang megah, berdiri lima pria yang sehari-harinya lebih akrab dengan tumpukan berkas disposisi, meja rapat, dan seragam cokelat aparatur sipil negara (ASN).
Mereka adalah lima camat se-Kota Solo. Menanggalkan sejenak sekat-sekat protokoler birokrasi yang kaku, para pamong praja ini nekat naik ke atas panggung sandiwara tradisi.
Baca Juga: Balik Dolanan Solo, Ruang Bermain yang Menghidupkan Kembali Tawa di Tengah Dunia Digital
Langkah kultural ini diambil bukan demi mengejar tepuk tangan seremonial, melainkan sebuah siasat komunikasi taktis untuk membumikan isu-isu krusial—mulai dari jeratan pernikahan dini, pencegahan stunting, program Keluarga Berencana (KB), hingga hak proteksi anak—langsung ke jantung pertahanan budaya masyarakat Solo.
Di koridor Balai Kota Solo, kelima camat laki-laki ini telah lama mengunci julukan unik: Pandawa Limo Pemkot Solo. Julukan ini bukan sekadar gurauan selasar pengisi waktu rehat kopi, melainkan sebuah metafora kepemimpinan yang dilontarkan langsung oleh Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, dalam berbagai forum resmi.
Baca Juga: Jejak Peternakan Belanda: Menelusuri Asal-usul Nama Kampung Kandang Sapi di Jebres Solo
Penyematan nama tokoh Mahabharata ini lahir secara organik dari kecocokan postur fisik, pembawaan personal, serta tuntutan karakter pelayanan publik di wilayah masing-masing.
Camat Jebres Daryono sebagai Yudhistira. Dia menjadi representasi sulung Pandawa yang dikenal tenang, bijaksana, dan berwibawa dalam mengayomi konflik warga di tingkat tapak.
Camat Pasar Kliwon Ari Wibowo sebagai Bima atau Werkudara. Ditopang oleh postur tubuhnya yang paling tinggi besar, menjadikannya simbol ketegasan, kekuatan fisik, dan keberanian mengeksekusi kebijakan darurat.
Baca Juga: Cara Hafid Mahmudi “Kipli” Buktikan Anak Punk Solo Mampu Hidup Mandiri.
Camat Laweyan Isnan Wihartanto sebagai Arjuna sebagai simbol keluwesan komunikasi publik dan diplomasi antar-wilayah. Dan Camat Banjarsari Priyadi serta Camat Serengan Tri Widada Eka Prastya sebagai Nakula-Sadewa. Dua ksatria kembar yang melambangkan kesetiaan penuh serta kecepatan respons pelayanan administratif.
Keluar dari zona nyaman sebagai penguasa wilayah dan masuk ke dalam pakem ketat seni tari tradisional tentu memicu ketegangan psikologis yang luar biasa. Di tengah impitan jadwal dinas melayani aduan warga yang super padat, kelima camat ini hanya memiliki waktu untuk satu kali latihan menjelang pementasan.
“Latihannya benar-benar cuma sekali. Kami hanya melakukan plotting materi inti dan pesan pembangunan dari pemerintah yang wajib disisipkan dalam dialog. Selebihnya, begitu kaki melangkah ke atas panggung, semuanya murni improvisasi spontan,” kenang Camat Laweyan Isnan Wihartanto, sambil tersenyum.
Strategi penyampaian yang cair dan penuh humor ini terbukti ampuh meruntuhkan kejenuhan penonton yang biasanya antipati terhadap pidato formal pejabat. Kendati di atas panggung mereka tampak meyakinkan, di belakang layar cerita demam panggung tidak bisa disembunyikan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Ramalan, Primbon Kini Jadi Rujukan Gen Z hingga Perekrutan Karyawan Perusahaan
“Seumur hidup, ini adalah pengalaman pertama saya main wayang orang. Rasanya grogi setengah mati sampai keluar keringat dingin sebelum naik panggung. Bersyukur sekali, begitu musik gamelan berbunyi dan dialog mengalir, semuanya berjalan lancar,” aku Camat Serengan Tri Widada Eka Prastya, jujur.
Pentaskan seni tradisional di Sriwedari ini menjadi proklamasi baru bagi gaya kepemimpinan di Kota Bengawan. Sinergi antar-kecamatan kini tidak lagi melulu diselesaikan secara kaku di balik meja ruang rapat ber-AC, melainkan diaktifkan langsung di ruang-ruang kebudayaan yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Surakarta.
Komitmen ini dipastikan tidak akan berhenti di panggung Sriwedari. Ke depan, di wilayah kecamatan masing-masing sudah dirancang banyak agenda kebudayaan mandiri berbasis masyarakat.
“Mulai dari ketoprak warga hingga wayang orang. Kami berlima siap saling dukung dan turun langsung memeriahkannya,” tegas Camat Pasar Kliwon Ari Wibowo.
Dalam mitologi pewayangan, kemenangan agung tidak pernah diraih oleh superioritas satu tokoh tunggal. Heterogenitas karakter dan perbedaan tantangan geografis di lima kecamatan justru menjadi modal dasar bagi Pemkot Solo untuk menghadirkan pelayanan publik yang humanis dan responsif.
Masyarakat Solo kini tinggal menanti, bagaimana kelenturan para ksatria birokrasi ini di atas panggung seni mampu diterjemahkan menjadi ketangkasan nyata dalam memotong tali merah hambatan pelayanan di dunia nyata. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno