Sumedi, 20 Tahun Bertahan Membuat Genteng di Tengah Gempuran Bahan Bangunan Modern

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 19:49 WIB
Sumedi tetap bertahan membuat kerajinan genteng. (Rara Belva/Radar Solo)
Sumedi tetap bertahan membuat kerajinan genteng. (Rara Belva/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Tumpukan tanah liat memenuhi sudut tempat produksi. Di tangan yang sudah terbiasa bekerja, bongkahan tanah itu dipotong, dicetak, dijemur, lalu dibakar hingga berubah menjadi genteng yang siap menaungi rumah.

Suara alat cetak dan aktivitas produksi menjadi keseharian Sumedi, pengrajin genteng di Dusun Karangkepoh, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota. Di tengah semakin beragamnya pilihan bahan bangunan, ia masih setia menekuni pekerjaan yang telah dijalankan selama lebih dari dua dekade.

Baca Juga: Tempati Tanah Kas Desa, SMP di Mojogedang Karanganyar Ini Terancam Digusur

Sumedi memulai usaha pembuatan genteng sejak 2002. Kala itu, usaha tersebut cukup banyak ditekuni masyarakat di sekitar Karangkepoh. Namun, waktu perlahan mengubah pilihan.

Sebagian perajin memilih meninggalkan genteng tanah liat dan beralih membuat batu bata. Menurut Sumedi, batu bata dinilai memiliki permintaan yang lebih tinggi.

“Ini sudah dari 2002,” ujar Sumedi saat ditemui di tempat produksinya.

Baca Juga: Terungkap, Ini Penyebab Bansos KPM di Karanganyar Dicoret Padahal Tak Ikut Judol

Proses membuat genteng tidak bisa dilakukan secara instan. Tanah liat terlebih dahulu diolah hingga memiliki tekstur yang sesuai untuk dicetak. Bahan tersebut dibentuk menjadi kotak-kotak menyerupai balok. Setelah itu, tanah dipotong sesuai ukuran untuk satu buah genteng.

Potongan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam alat cetak. Perlahan, bentuk tanah liat yang semula hanya berupa potongan balok berubah menjadi genteng.

“Ini dari tanah liat dibuat kotak-kotak terus jadi kayak balok. Habis itu diiris-iris seukuran satu genteng, setelah itu dicetak menggunakan alat berbentuk genteng,” jelasnya.

Baca Juga: TPA Putri Cempo Membara, Api Berkobar di Blok D, Bagaimana Nasib Warga?

Genteng yang baru keluar dari cetakan belum bisa langsung digunakan. Kondisinya masih basah dan membutuhkan proses pengeringan. Jemuran menjadi tahap penting berikutnya. Genteng ditata dan dibiarkan terkena sinar matahari hingga kandungan airnya berkurang.

Cuaca menjadi penentu. Saat matahari terik pada musim kemarau, genteng biasanya cukup dijemur selama sekitar dua hari. Ketika musim penghujan tiba, waktu pengeringan bisa mencapai tiga hari atau bahkan lebih.

“Kalau kemarau gini dua hari sudah siap, tapi kadang kalau musim penghujan tiga hari, kadang lebih, tergantung cuacanya,” kata Sumedi.

Setelah benar-benar kering, genteng belum selesai. Tahap terakhir adalah pembakaran atau pengovenan. Proses ini membuat genteng lebih kuat dan siap digunakan sebagai penutup atap rumah.

Dari tempat produksinya, Sumedi mampu menghasilkan sekitar 400 hingga 500 genteng dalam sehari. Jumlah tersebut tentu tidak selalu sama. Kondisi bahan, cuaca, serta permintaan pelanggan turut menentukan banyak sedikitnya genteng yang dapat diproduksi.

“Sehari menghasilkan minimal 400, kadang 500,” ujarnya.

Menariknya, Sumedi tidak terlalu bergantung pada toko bangunan untuk memasarkan hasil produksinya. Pelanggan justru lebih sering datang langsung ke tempat produksi. Ketika genteng telah siap, pembeli mengambil sesuai kebutuhan.

“Kalau pelanggan biasanya datang sendiri. Kalau barang sudah siap ya langsung ready begitu,” jelasnya.

Dia mengaku lebih banyak melayani pemakai langsung ketimbang menitipkan produk ke toko material. “Saya jarang ke toko besi, Biasanya langsung ke pemakai,” tuturnya.

Bertahan sebagai perajin genteng bukan keputusan yang mudah. Jumlah pelaku usaha sejenis di Karangkepoh terus menyusut. Sumedi memperkirakan sekitar 90 persen masyarakat yang dahulu membuat genteng kini telah beralih memproduksi batu bata.

“Dulu masyarakat sini juga hampir banyak yang usaha ini, tapi kalau sekarang 90 persen balik ke banon bata. Tapi kalau saya terus terang karena banyak yang membutuhkan genteng, jadi saya tekuni genteng saja,” ungkapnya.

Sumedi sebenarnya juga membuat batu bata. Namun, produksinya tidak sebesar genteng. Batu bata hanya menjadi usaha tambahan.

“Kalau banon juga buat, tapi enggak terlalu besar, cuma tombo pengen,” tambahnya.

Di tengah perubahan zaman dan pilihan material bangunan yang semakin beragam, Sumedi memilih bertahan dengan tanah liat. Lebih dari sekadar pekerjaan, produksi genteng telah menjadi bagian dari kesehariannya selama lebih dari 20 tahun. Dia tetap mengolah tanah, mencetaknya satu per satu, menjemurnya di bawah matahari, lalu membakarnya hingga siap menjadi pelindung rumah. (*/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
batu bata genteng tanah liat cuaca material