Warisan 25 Tahun, Kampung Sapu Ijuk Dawar Boyolali Bertahan di Tengah Gempuran Alat Kebersihan Modern

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:31 WIB
Perajin sapi ijuk di Desa Dawar, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)
Perajin sapi ijuk di Desa Dawar, Kecamatan Mojosongo, Boyolali. (Rara Belva/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Serat hitam pohon aren berserak di tangan pengrajin. Satu per satu dipilih, disisir, dipilah, lalu diikat hingga berubah menjadi sapu ijuk. Pekerjaan sederhana itu membutuhkan ketelitian agar setiap helai serat kuat dan tidak mudah rontok.

Di Desa Dawar, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, membuat sapu ijuk masih menjadi keseharian warga. Di tengah menjamurnya alat kebersihan modern, usaha rumahan ini tetap bertahan. Bahkan, produknya menembus pasar hingga luar Jawa.

Salah satunya dijalankan Kunti Setiawati bersama suaminya, Muhammad Shofa. Bagi mereka, membuat sapu ijuk bukan sekadar pekerjaan, melainkan warisan keluarga yang telah berjalan puluhan tahun.

Baca Juga: Sumedi, 20 Tahun Bertahan Membuat Genteng di Tengah Gempuran Bahan Bangunan Modern

Kunti mengatakan, kualitas sapu sangat ditentukan bahan baku. Ijuk yang dipilih harus berwarna hitam, tidak kekuningan, serta memiliki serabut yang kuat.

“Ijuknya itu pokoknya yang nggak kuning, terutama yang sudah miwir dan masih ada sodo-sodonya,” ujar Kunti.

Ijuk kemudian disisir untuk membersihkan kotoran sekaligus memisahkan serat berdasarkan kualitas. Dari proses itu, pengrajin menghasilkan lima kategori, yakni super satu, super dua, super tiga, medium, dan ekonomis.

Baca Juga: Melewati Tiga Dekade Krisis, Begini Cara Siti Zuhriyah Tetap Bertahan Produksi Rambak Rumahan Boyolali

Serat sisa penyisiran pun masih bisa dimanfaatkan. Sapu kategori ekonomis, misalnya, banyak digunakan untuk kebutuhan pabrik. Harganya berkisar Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per buah, tergantung kualitas.

Untuk memperkuat ikatan, pengrajin menggunakan senar yang ditekuk dan ditarik. Proses ini harus dilakukan teliti agar ijuk tidak mudah lepas. Kualitas menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.

Usaha Kunti dan Shofa bukan bisnis baru. Kunti meneruskan usaha milik ibunya yang meninggal pada 2001. Hingga kini, usaha tersebut telah berjalan sekitar 25 tahun.

“Ini nerusin punya ibu, meninggal 2001. Akhirnya ini sudah 25 tahunan. Dulu waktu ada ibu saya, sapu ini sampai diimpor ke Taiwan juga,” ungkap Kunti.

Pasar kini berubah. Jika dahulu mengandalkan pembeli yang datang langsung, pemasaran daring mulai dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan.

Bagi Shofa, mempertahankan usaha keluarga juga berarti membangun kemandirian sekaligus membuka lapangan pekerjaan.

“Saya buat bisnis ini karena pengen mandiri, nggak bergantung sama orang lain dan bisa memperkerjakan orang,” kata Shofa.

Pelanggan utama berasal dari distributor dan pedagang. Pesanan luar daerah biasanya minimal 100 buah, sedangkan pembeli langsung dalam jumlah besar bisa memesan hingga ribuan.

Produk dari Dawar telah dikirim ke sejumlah daerah seperti Pontianak, Lampung, Makassar hingga wilayah lain di Sulawesi.

“Target utama distributor, yang paling utama dan paling banyak di luar Jawa. Selain itu penjual-penjual keliling,” ujar Shofa.

Menjaga usaha tetap hidup bukan perkara mudah. Modal menjadi kendala ketika pesanan datang dalam jumlah besar. Di sisi lain, persaingan membuat kualitas harus terus dijaga.

“Cari pelanggan sekarang juga susah. Sekarang kualitasnya harus benar-benar terjaga, benar-benar nomor satukan kualitas,” tutur Kunti.

Menurutnya, usaha sapu ijuk memang tidak selalu menghasilkan keuntungan besar. Namun, ijuk memiliki keunggulan karena tidak mudah rusak atau membusuk sehingga produk dapat disimpan relatif lama.

Pandemi Covid-19 yang memukul banyak sektor usaha justru menjadi titik balik pemasaran. Keterbatasan aktivitas mendorong usaha tersebut memanfaatkan internet.

“Pemasaran juga kurang, tapi sekarang lewat online alhamdulillah. Gara-gara corona, corona membawa berkah,” ujar Kunti sambil bercanda.

Kunti dan Shofa bukan satu-satunya pengrajin sapu ijuk di Dawar. Salah satunya Kamit, yang telah memproduksi sapu sejak 1999.

“Usaha sapu ini saya sudah sejak tahun 1999, saya usaha sendiri dari nol. Saya sehari bisa seratus biji,” ujar Kamit.

Dalam sehari, Kamit mampu menghasilkan sekitar 100 sapu. Jika ada pesanan, produksi langsung diserahkan kepada pembeli. Jika tidak, sapu disetorkan kepada pengepul.

Menurut Kamit, usaha sapu telah menjadi bagian dari kehidupan warga Dawar. Hampir satu wilayah menekuni pekerjaan serupa.

“Di sini kebanyakan usaha sapu. Sapu semua, hampir satu kelurahan sapu semua. Harganya juga macam-macam, biasanya Rp 4.000 per biji. Kalau yang bagus Rp 10.000,” jelasnya.

Persaingan membuat kualitas dan harga harus terus dijaga. Cuaca juga memengaruhi permintaan. Saat kemarau, pesanan cenderung meningkat, sedangkan musim hujan membuat penjualan melambat.

“Kalau musim hujan ya biasa agak kendo sedikit. Kalau musim kemarau gini ramai,” ujar Kamit.

Pengrajin pun menyesuaikan produksi dengan kondisi pasar. Beruntung, ijuk tidak mudah rusak sehingga stok yang belum terjual masih bisa disimpan hingga permintaan kembali meningkat.

Bagi warga Dawar, sapu ijuk lebih dari sekadar alat kebersihan. Di balik setiap ikatan serat aren, ada keterampilan yang diwariskan, penghasilan keluarga yang dipertahankan, sekaligus denyut ekonomi warga.

Cara membuatnya masih mengandalkan tangan. Namun, cara menjualnya telah berubah. Dari pembeli yang datang ke rumah, pengepul dan distributor, kini sapu ijuk Dawar dipasarkan secara daring hingga menjangkau berbagai daerah.

Warisan lama itu akhirnya menemukan cara baru untuk bertahan. Serat aren yang diikat menjadi sapu kini mengikuti arus zaman: dibuat dengan keterampilan tangan, dipasarkan dengan teknologi, dan dikirim jauh melampaui Desa Dawar. (rara belva zain carissa)

Editor : Kabun Triyatno
pengrajin Sapu Ijuk usaha warisan keluarga