Camat Ngargoyoso Dwi Cahyono mengungkapkan, kejadian tanah longsor dalam proses pembangunan fondasi talut atau prigi untuk rumah sekaligus pabrik pencacah bahan plastik milik Wiro Ngadiman itu sudah beberapa kali terjadi. Namun, dalam peristiwa sebelumnya tidak ada korban jiwa.
“Dari informasi yang saya terima saat bertemu dengan beberapa pekerja yang mengerjakan bangunan itu, longsor tidak hanya sekali ini saja. Sebelumnya, tanah di lokasi itu sering longsor. Tapi saat itu tidak ada pekerja yang jadi korban,” kata Dwi.
Dwi menceritakan, lima pekerja terdiri dari Suwarno, 36; Sudarno 48; Ngadiman 50; Sugimin, 49; dan Pono 45, sudah bekerja lebih 14 hari di rumah Wiro Ngadiman. Saat itu, mereka sedang memasang besi cakar ayam untuk penguat fondasi talut. Supaya tanah yang di atasnya tidak longsor.
“Lima pekerja itu menggali untuk pemasangan cakar ayam yang digunakan sebagai fondasi sekitar 1,5 meter, dua orang ada di atas, sedangkan ketiga pekerja lainnya berada di dalam lubang untuk pembangunan fondasi,” ucapnya.
Pasca kejadian, saat ini proses pembangunan di rumah Wiro Ngadiman dihentikan sementara. Lokasi masih terpasang police line. Warga sekitar wilayah itu dilarang mendekat. “Ditutup dan dihentikan, sampai kapan saya juga belum tahu. Sebab, itu bukan ranah kami lagi,” imbuhnya.
Di sisi lain, dua korban tertimbun tanah masih mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Karanganyar, yakni Sudarno dan Ngadiman. Namun, karena kondisi Sudarno mengalami kesulitan perrnafasan dan patah kaki kiri, maka dia dilarikan ke RSUD dr Moewardi Surakarta.
“Kalau kondisi Ngadiman mulai stabil dan sudah dipindah ke bangsal perawatan,” kata Direktur RSUD Karanganyar Cucuk Heru Kusumo.
Seperti diberitakan sebelumnya, tanah longsor di Ngetep, Kemuning, Ngargoyoso mengakibatkan tiga orang tertimbun material longsoran. Dua orang berhasil dievakuasi dan harus dilarikan ke rumah sakit, sementara seorang lagi tewas di lokasi kejadian. (rud/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra