“Dulu, umatnya bergeser dan berkurang. Kemudian karena untuk perawatan, candi dijadikan sebagai objek wisata. Sekarang kami akan kembalikan lagi untuk tempat ibadah,” terang Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karanganyar Titis Sri Jawoto, kemarin (19/9).
Hasil FGD, perayaan hari-hari besar umat Hindu dinilai masif dan unik. Bisa jadi daya tarik tersendiri bagi umat se Indonesia. Termasuk wisatawan.
“Jadi, perayaan itu kan melibatkan banyak orang. Baik dari wilayah Jateng, maupun yang lainnya. Bahkan dari Bali pun bisa ikut ditarik ke sini. Dan mereka nanti akan menginap atau long stay. Otomatis bisa memberikan pemasukan tersendiri. Itulah yang dinamakan wisata spiritual atau religi,” ungkap Titis.
Lebih lanjut diungkapkan Titis, pengembalian fungsi Candi Ceto, dikuatkan kajian berbagai sumber. “Saat FGD itu, kami menyerap tanggapan dari sejumlah stakeholder. Hasilnya, mereka mendukung. Candi itu dibangun nenek moyang kita sebagai lokasi peribadatan. Jika dikembalikan kembali sebagaimana fungsinya, itu sudah tepat,” tegasnya.
Sementara itu, penganut Hindu asal Kecamatan Ngargoyoso Priyanto mendukung rencana tersebut. Namun, dia meminta agar rencana ini dikonsep secara matang. Tidak asal-asalan.
“Kami setuju saja. Tapi, penataan untuk ibadah dan pariwisata harus jelas. Di Bali, umat yang beribadah ketika ada wisatawan, itu sudah biasa. Tapi kalau di sini, bisa menerima atau tidak? Karena menurut saya, di sini belum terbiasa beribadah dilihat wisatawan. Apalagi didokumentasikan,” ujar anggota Persada Hindu Dharma Karanganyar tersebut. (rud/fer/dam)