Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Masjid Darul Mutaqin: Masjid Tertua di Karanganyar

Damianus Bram • Senin, 11 April 2022 | 16:45 WIB
BERSOLEK: Pekerja mengecat pagar Masjid Darul Mutaqin. (RENDY/RADAR SOLO)
BERSOLEK: Pekerja mengecat pagar Masjid Darul Mutaqin. (RENDY/RADAR SOLO)
KARANGANYAR Masjid Darul Mutaqin atau lebih dikenal sebagai Masjid Tiban, dipercaya sebagai masjid tertua di Karanganyar. Terletak di Sudun Pulosari, Desa Kaliboto, Kecamatan Mojogedang. Selain tempat ibadah, masjid ini juga menjadi objek wisata religi.

Kondisi Masjid Darul Mutaqin cukup terawat. Ciri khas masjid ini, yakni mimbar dari kayu jati, berhias ukiran mahkota di kedua sisi. Disampingnya, terdapat sebuah tongkat berkalung tasbih ukuran besar.

“Empat pilar masjid masih asli dari kayu jati. Mimbarnya juga asli. Usianya mungkin setara dengan Masjid Demak,” terang takmir Masjid Darul Mutaqin Suparno Adi Wardoyo.

Suparno menambahkan, masyarakat percaya Masjid Tiban merupakan yang tertua di Bumi Intanpari. Hanya saja, tidak ada jejak sejarah yang tercatat.

“Hanya dari cerita para pendahulu. Yang jelas masjid ini sudah adam jauh sebelum dusun ini terbentuk. Itu pun masyarakat tahunya tiba-tiba ada masjid ini. Karena itu dikenal dengan nama Masjid Tiban,” imbuhnya.

Masjid Darul Mutaqin juga dikenal sebagai objek wisata religi. Sering dikunjungi wisatawan untuk ziarah. Karena di sisi timur masjid, terdapat makam Waliyullah sekaligus murid Sunan Kalijaga, yakni Eyang Abdullah Fatah. Dipercaya masih memiliki garis keturunan dengan Raden Fatah dari Kerajaan Demak.

Di sisi barat masjid, terdapat makam Eyang Tumenggung Wirosari. Berjajar rapi dengan puluhan makam para pengikutnya.  

“Di samping kanan dan kiri masjid terdapat sendang kakung dan sendang putri. Dulu digunakan untuk wudhu. Masyarakat juga percaya, air sendang ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit,” beber Suparno.

Nah, biasanya wisatawan membanjiri Masjid Darul Mutaqin ketika pengajian dan kenduri, memeringati haul Eyang Abdullah Fatah. Diadakan tiap pertengahan bulan Ruwah (penanggalan Jawa). Dimeriahkan ribuan tumpeng, pergelaran wayang kulit, hingga ketoprak. “Kegiatan ini sudah terlaksana sejak empat tahun terakhir,” jelas Suparno.

Biasanya, wisatawan yang berziarah datang dari berbagai daerah. Mulai dari Jawa Timur, Sumatra, Jawa Barat, dan sebagainya. “Latar belakangnya beragam. Ada yang dari kalangan pejabat, santri, sampai masyarakat lokal. Selain haul, masjid ini ramai didatangi tiap malam Jumat,” urai Suparno. (mg6/mg7/fer) Editor : Damianus Bram
#Masjid Darul Mutaqin #Masjid Tertua di Karanganyar #Masjid Tiban