Kirab dikemas dengan memadukan cara petani dalam mengelola pertanian zaman dulu dan era modern saat ini. Ada pun memedi sawah dibuat dari jerami. Kemudian dipajang di lahan sawah organik setempat.
Ketua sekaligus penggerak Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Embung Setumpeng Hasyim Ashari mengungkapkan, pameran memedi sawah ini sudah digelar sejak awal bulan ini. Puncak acaranya dengan menggelar kirab memedi sawah. Lalu dilanjutkan panen padi organik pada Senin (20/6) ini.
”Kirab dan festival memedi sawah ini untuk mengenang petani-petani zaman dulu yang mengusir hama tanaman, khususnya burung. Sekaligus mengenalkan pertanian ke generasi penerus,” ucap Hasyim kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (19/6).
Hasyim mengaku, kegiatan ini bertemakan perpaduan atau kolaborasi pertanian zaman dulu dan modern. Pameran memedi sawah juga dilombakan. Penilainya dewan juri dan pengunjung Embung Setumpeng.
”Ada sekitar 30 karakter memedi sawah yang dipajang. Peserta memanfaatkan jerami dan pakaian serta barang bekas untuk membuat karakter memedi sawah sesuai dengan kreativitas masing-masing. Saat ini sudah kami pindahkan ke salah satu lahan organik yang besok akan dilakukan panen raya,” imbuhnya.
Sugiyarno, koordinator kegiatan menambahkan, selain untuk mengenalkan cara petani zaman dulu dan terkini, kegiatan ini untuk mengangkat potensi Desa Gentungan yang saat ini memiliki wisata Embung Setumpeng.
”Ada multiefeknya. Selain memberikan edukasi, kami juga memperkenalkan kepada masyarakat luas untuk bisa berkunjung ke Embung Setumpeng,” singkat Sugiyarno. (rud/adi/dam) Editor : Damianus Bram