RADARSOLO.COM- Penutupan jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang dan Candi Cetho oleh Perhutani menimbulkan dampak cukup besar.
Tidak hanya bagi Pemkab Karanganyar, tapi juga masyarakat yang terbiasa berakvitas di lokasi tersebut.
Dampak bagi Pemkab Karanganyar, tentu saja pendapatan asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata bisa berkurang. Tidak ada lagi pemasukan retribusi dari pendaki maupun wisatawan.
Apalagi, bukan hanya jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang dan Candi Cetho yang ditutup, Perhutani juga menutup akses ke wisata religi Pringgodani.
Sedangkan dampaknya bagi masyarakat, pendapatan para porter di jalur pendakian Gunung Lawu lewat Cemoro Kandang dan Candi Cetho, dipastikan berkurang.
Penutupan akses-akses strategis tersebut lanataran ada regulasi yang diubah dalam perjanjian kerja sama (PKS) antara Perhutani dan Pemkab Karanganyar.
"Ya ditutup sementara. Tidak ada penarikan retribusi. Sembari menungu proses pembaruan regulasi dalam perjanjian kerja sama dengan Pemkab Karanganyar,” ujar Administratur KPH Surakarta Herry Merkussiyanto, Jumat (12/1/2024).
Herry menyebut, Perhutani telah melakukan sosialisasi kepada sejumlah relawan dan porter di jalur pendakian.
"Kalau ada yang nekat, risikonya ditanggung sendiri. Kami tetap sesuai regulasi. Makanya kami minta maaf, karena memang sudah sesuai dengan peraturan dari pusat," terang Herry.
Terkait sistem kerja sama antara Perhutani dan Pemkab Karanganyar melalui Disparpora Karanganyar, Herry enggan berkomentar. Alasannya, itu merupakan kewenangan dinas terkait.
Kepala Disparpora Karanganyar Hari Purnomo juga irit bicara terkait kerja sama dengan Perhutani yang ditelah habis masanya.
"Ya tunggu saja nanti regulasinya seperti apa dari Perhutani,” jelas dia.
Penelusuran radarsolo.com, sumbangan untuk PAD dari retribusi jalur pendakian Gunung Lawu via Cemoro Kandang dan Candi Cetho, serta kawasan religi Pringgondani mencapai ratusan juta rupiah. (rud/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono