RADARSOLO.COM - Berwisata ke Ngargoyoso, Karanganyar, tentu tak hanya bisa mengunjungi kawasan wisata Kemuning. Masih banyak destinasi wisata di Ngargoyoso, salah satunya yang cukup legendaris adalah Telaga Madirda.
Telaga Madirda terletak di Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.
Jaraknya sekitar 25 km dari Karanganyar kota. Atau menempuh perjalanan sekira 45 menit menggunakan kendaraan pribadi.
Telaga Madirda merupakan objek wisata alam berupa telaga alami, yang dikelilingi oleh pepohonan yang hijau nan rindang.
Di sana pengunjung bisa merasakan kesegaran udara pegunungan yang sejuk, sambil melihat pemandangan air yang segar dan hijaunya pepohonan.
Selain itu, ada sejumlah wahana wahana dan fasilitas, seperti gazebo, spot berswafoto, mushola, tempat parkir, dan penjual makanan.
Bagi yang ingin nge-camp, di kawasan Telaga Madirda juga tersedia lokasi camping ground yang luas.
Hari Buka dan Harga Tiket Masuk
Objek wisata Telaga Madirda buka setiap hari mulai pukul 08.00 - 16.00 WIB. Kemudian, untuk weekend atau akhir pekan, buka mulai pukul 08.00 – 17.30 WIB.
Sementara untuk camping ground bisa diakses 24 jam.
Harga tiket masuk ke Telaga Madirda ini juga sangat terjangkau, yakni Rp 15.000.
Bagi yang tidak membawa bekal makanan dari rumah, di dalam kawasan wisata terdapat banyak penjual makanan, tentu dengan harga yang juga sangat terjangkau.
Baca Juga: Menilik Wisata Kalimas di Kemuning, Karanganyar: Nikmatnya Bermain Air Di Antara Kebun Teh
Pengunjung bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan dari gazebo atau duduk di tikar di dekat telaga.
Sejarah Telaga Madirda
Dilansir dari pesonakaranganyar, sejarah terbentuknya Telaga Madirda diyakini berasal dari benda pusaka yang sakti bernama Cupu Manik Astagina.
Dikisahkan ada sepasang suami istri bernama Dewi Indradi dan Resi Gutama.
Mereka memiliki tiga orang anak, bernama Retno Anjani, Subali, dan Sugriwa.
Pada suatu waktu, sang ibu Dewi Indradi menyerahkan sebuah pusaka kepada Retno Anjani.
Hal itu membuat dua saudara lainnya merasa iri.
Sang ayah Resi Gutama yang tidak menginginkan terjadi perselisihan di antara ketiga anaknya, akhirnya membuang benda pusaka tersebut.
Ajaibnya, benda pusaka Cupu Manik Astagina itu kemudian berubah menjadi sebuah telaga, dengan air yang sangat jernih dan tidak pernah kering.
Telaga tersebut kemudian saat ini dikenal dengan nama Telaga Madirda. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria