RADARSOLO.COM - Kabupaten Karanganyar tidak hanya memiliki banyak wisata alam, namun ada juga wisata air dan rohani dalam bentuk pemandian dari sumber mata air alami.
Salah satunya adalah Patirtan Sapto Resi yang ada di Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Patirtan Sapto Resi ini tepatnya berada di Dusun Babar, Desa Anggrasmanis, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Wisata Patirtan Sapta Resi ini berada sejalur dengan pendakian ke Gunung Lawu melalui via Candi Cetho. Jaraknya sekitar 100 meter di atas Candi Kethek.
Dalam Bahasa Jawa, patirtan memiliki arti sumber mata air, muncul dari bawah tanah ke permukaan.
Kemudian, tirta dimaknai sebagai air yang dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup.
Sedangkan sapta berarti tujuh dalam Bahasa Indonesia. Sedangkan dalam Bahasa Jawa, angka tujuh atau pitu bisa bermakna sebagai pitulungan atau pertolongan.
Lalu Resi sendiri bermakna seseorang yang dianggap suci, memiliki banyak pengikut atau murid.
Jadi Patirtan Sapto Resi ini kerap diartikan sebagai tujuh mata air yang suci.
Sesuai dengan namanya, di tempat ini mengalir tujuh pancuran yang airnya bisa langsung diminum tanpa harus dimasak.
Bahkan, disini juga diperbolehkan untuk “kungkum” atau berendam langsung di kolam yang disediakan untuk menampung air sumbernya.
Menurut warga sekitar, Patirtan Sapto Resi ini dulunya merupakan tempat singgahnya Prabu Brawijaya.
Wisata air ini juga dekat dengan Pamoksan Brawijaya dengan 1.000 anak tangga yang dibangun setelah adanya penemuan prasasti disana.
Selain untuk objek wisata, air dari Patirtan Sapta Resi ini memiliki fungsi untuk mensucikan diri.
Jadi ketika pendaki sedang melakukan perjalanan menuju ke Gunung Lawu diperbolehkan untuk “mensucikan diri” terlebih dahulu disini.
Air dari Patirtan Sapto Resi ini dialirkan ke ladang para petani untuk mengairi perkebunan mereka. Pasalnya, aliran air dari sumber disini jangkauannya sangat luas.
Air dari sini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Karena itu air dari Patirtan Sapto Resi bisa diambil dan digunakan sebagai obat untuk orang yang sakit. (mg10/dam)
Editor : Damianus Bram