RADARSOLO.COM - Selain menyuguhkan wisata alam yang menawan. Kabupaten Karanganyar juga menyajikan wisata sejarah. Salah satunya adalah De Tjolomadoe.
Destinasi wisata ini terletak di Jalan Adi Sucipto No.1, Paulan Wetan, Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar.
De Tjolomadoe, pabrik gula yang sudah ada sejak 158 tahun silam. Pabrik ini didirikan pada tahun 1861 oleh Mangkunegara IV, dan menjadi pabrik terbesar di Asia pada saat itu.
Kemudian tepat tahun 1928, pabrik ini mengalami perluasan area lahan tebu dan perombakan arsitektur.
Pabrik Gula (PG) Colomadu pada 1925 -1930 berhasil menunjukkan prestasinya. Pabrik ini berhasil menjadi pengekspor gula terbesar kedua di dunia. Sayangnya, di tahun 1998 PG Colomadu berhenti melakukan kegiatan produksi.
Setelah sempat berhenti beroperasi selama 20 tahun, Pabrik Gula Colomadu dihidupkan kembali dengan wajah baru.
Pada tahun 2017, Kementerian BUMN melakukan revitalisasi pabrik bersama beberapa pihak untuk menjadikan aset cagar budaya ini kembali bersinar di bawah pengelolaan PT Sinergi Colomadu.
Dan akhirnya pada tahun 2018, PG Colomadu berganti nama menjadi De Tjolomadoe. Kegiatannya pun tidak berpusat lagi pada produksi gula, tapi sebagai objek wisata.
Sebagai destinasi wisata, fasilitas atau objek menarik apa yang ditawarkan dari De Tjolomadoe?
Memang berbeda dengan destinasi wisata lainnya, disini tidak banyak fasilitas maupun wahana yang ditawarkan. Namun unsur sejarah dan arsitektural menjadi magnet tersendiri bagi kehadiran wisatawan di area ini.
Saat mengunjungi De Tjolomadoe, beberapa hal yang bisa dieksplor para wisatawan. Berikut penjelasannya:
1. Mengenal Ruang Proses Pembuatan Gula
Berada di De Tjolomadoe, para wisatawan dapat mengunjungi ruang display dan mengenal lebih jauh pabrik ini.
Saat menapakkan kaki di tempat ini, terlihat jelas, bangunan besar masa kolonial, ditambah cerobong asap yang tinggi menjulang.
Kondisi cat yang masih baru seolah menunjukkan bahwa tempat ini tak lekang oleh waktu.
Selain itu, terdapat tulisan “Anno 1928” di salah satu sisi bangunan, penanda kehebatannya kala itu.
Di dalam ruangan, pengunjung dibuat kagum dengan lantai lama berwarna hitam dan kuning. Serta ketel uap dan mesin giling tebu yang masih terpajang dengan gagahnya.
Area wisata ini dibagi ke dalam beberapa ruangan, sesuai dengan proses pengolahan tebu.
Selain itu, terdapat penanda di langit–langit bertuliskan Stasiun Gilingan, Penguapan, Karbonatasi, dan Ketelan.
Kemudian mesin-mesin yang dulu digunakan pun masih terpampang dan tampak baru karena dicat ulang.
Wisatawan tidak perlu khawatir bakal kepanasan saat memasuki area tersebut. Pasalnya di dalam ruangan telah dilengkapi dengan pendingin ruangan. Sehingga, suasana menjadi sejuk dan nyaman.
Dengan kondisi ini, para wisatawan pun dapat berpetualang dengan nyaman menyusuri lorong demi lorong dalam pabrik tersebut.
Tidak hanya itu saja, De Tjolomadoe juga menghadirkan wahana edukasi bagi para pengunjung.
Disini terdapat museum yang menampilkan berbagai kegiatan pembuatan tebu, hingga hama tanaman tebu. Semuanya terpampang rapi, lengkap dengan foto dan barang yang bersangkutan.
2. Berswafoto dengan Spot Foto Klasik yang Menarik
Di setiap sudut De Tjolomadoe sangat menarik. Ruangan seluas 1,3 hektar ini memiliki spot foto klasik yang sayang jika dilewatkan. Jadi, pengunjung tidak perlu khawatir mati gaya.
3. Bersantai di Besali Cafe dan Tjolo Koffie
Selain itu, pengunjung tidak perlu khawatir kelaparan, karena terdapat kafe dengan desain unik di sini.
Ada dua kafe di sini, yaitu Tjolo Koffie dan Besali Cafe. Keduanya menawarkan kenikmatan bersantap di dalam pabrik bernuansa kolonial.(dam)
Editor : Damianus Bram