RADARSOLO.COM - Mayjen TNI (Purn) Dadang Hendrayudha lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, pada 21 Mei 1965. Dikenal sebagai sosok yang penuh dedikasi dalam dunia pertahanan dan keamanan nasional Indonesia.
Dadang meniti karier militernya dari nol setelah lulus dari Akademi Militer pada tahun 1988-B, memilih kecabangan Infanteri dan bergabung dengan Korps Pasukan Khusus (Kopassus).
Sebagai bagian dari Kopassus, Dadang terlibat dalam berbagai operasi militer strategis yang tidak hanya menuntut keberanian, tetapi juga kecakapan dalam merancang dan menjalankan strategi militer.
Pengalaman operasional di Kopassus inilah yang memperkaya pengetahuannya dalam strategi militer tingkat tinggi.
Tidak heran jika kemudian Dadang dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Pabandya Intel di Paspampres, di mana ia bertanggung jawab atas keamanan Presiden dan Wakil Presiden serta tamu negara lainnya.
Tidak hanya berperan sebagai operator, Dadang juga menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang mumpuni.
Saat menjabat sebagai Komandan Distrik Militer di Pacitan dan Bojonegoro, Dadang berhasil mengelola wilayahnya dengan baik, meningkatkan kesiapsiagaan, dan memperkuat keamanan di daerah tersebut.
Pengalaman ini semakin memperkaya pemahaman strategisnya dalam mengelola pasukan dan wilayah dengan berbagai tantangan lokal yang ada.
Pada tahun 2014, Dadang bergabung dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), sebuah lembaga yang berperan krusial dalam menjaga keamanan nasional dari ancaman terorisme.
Di BNPT, Dadang dipercaya menjabat sebagai Kasubdit Kesiapsiagaan dan Penanganan Krisis. Dalam peran ini, ia memimpin tim dalam mengatasi berbagai ancaman terorisme serta memastikan bahwa Indonesia siap menghadapi krisis yang bisa terjadi kapan saja.
Selanjutnya, Dadang juga menjabat sebagai Kasubdit Pengawasan dan Kontra Propaganda serta Deradikalisasi.
Posisi ini menuntutnya untuk merancang dan mengimplementasikan strategi deradikalisasi bagi individu yang telah terpapar ideologi ekstrem.
Program deradikalisasi yang dipimpin oleh Dadang dinilai berhasil dalam mengurangi ancaman terorisme di Indonesia, dengan menitikberatkan pada pendekatan humanis dan preventif.
Pada tahun 2020, Dadang mencapai puncak kariernya saat diangkat sebagai Direktur Jenderal Potensi Pertahanan (Dirjen Pothan) di Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan).
Dalam peran ini, Dadang bertanggung jawab untuk mengembangkan potensi pertahanan nasional yang lebih kuat dan terintegrasi.
Dadang terlibat dalam berbagai program strategis, termasuk pengembangan komponen cadangan dan penguatan ketahanan nasional melalui pendekatan yang komprehensif.
Selama masa jabatannya, Dadang juga memainkan peran penting dalam inisiatif kerjasama internasional di bidang pertahanan, yang bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Dia dikenal karena kemampuannya dalam membangun hubungan yang solid dengan mitra internasional, serta visinya yang jelas untuk membawa pertahanan Indonesia ke level yang lebih tinggi.
Dadang pensiun pada tahun 2023, meninggalkan warisan berupa kontribusi signifikan dalam memperkuat keamanan dan pertahanan nasional.
Meskipun telah pensiun, pengaruhnya dalam kebijakan pertahanan nasional dan pendekatan yang diambil oleh penerusnya masih terasa hingga kini.
Dadang dikenal sebagai seorang pemimpin yang visioner, yang selalu mengedepankan integritas dan profesionalisme dalam setiap tugas yang diembannya. (*)
Editor : Kabun Triyatno