RADARSOLO.COM — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia di Karanganyar pada Minggu (17/8/2025) diwarnai pemandangan yang penuh makna.
Sejumlah mantan narapidana terorisme (napiter) atau Mitra Deradikalisasi turut serta dalam upacara bendera dan bertemu langsung dengan seorang veteran pejuang kemerdekaan.
Dengan pakaian rapi, para eks napiter ini berdiri sejajar dengan peserta upacara lainnya, sebuah simbol kuat dari komitmen mereka untuk kembali mencintai tanah air dan berintegrasi dengan masyarakat.
Usai upacara, rombongan eks napiter mendatangi rumah veteran Sutiman Wira Sadiman, 95, di Pokoh, Ngijo, Tasikmadu. Di sana, mereka mendengarkan langsung kisah perjuangan Mbah Wira saat melawan penjajah Belanda.
"Dulu saya berjuang membantu teman-teman pejuang, selain ikut bergerilya, saya dulu itu kalau malam nyelinap di markas Belanda dan mencuri senjata, serta sejumlah logistik makanannya," kenang Mbah Wira.
"Jalan 10 km untuk mengantar makanan," imbuhnya, menggambarkan beratnya perjuangan di masa lalu.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh rasa hormat. Salah satu mantan napiter dari Yayasan Gema Salam Karanganyar, Usman, mengaku sangat terinspirasi.
"Sangat menginspirasi bisa mendengarkan kisah perjuangan beliau. Ini menjadi pengingat bagi kami untuk selalu mencintai bangsa Indonesia dan menjaga persatuan," ungkap Usman sambil mendoakan Mbah Wira.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari kepolisian dan pemerintah daerah. Keterlibatan mantan napiter dalam kegiatan kenegaraan dianggap sebagai bagian penting dari upaya deradikalisasi dan reintegrasi sosial.
Mbah Wira sendiri mengaku terharu sekaligus bangga melihat generasi penerus yang berkomitmen menjaga keutuhan Indonesia.
Peringatan HUT RI ke-80 di Karanganyar tahun ini tidak hanya sekadar seremoni. Kehadiran para eks napiter memberikan pesan kuat bahwa kemerdekaan dirayakan dengan semangat rekonsiliasi, kebersamaan, dan cinta tanah air. (rud/adi)
Editor : Adi Pras