RADARSOLO.COM – Panggung malam puncak Lawu Fest Karanganyar 2025 Sabtu (1/11/2025) berubah menjadi lautan pesona budaya.
Di bawah cahaya temaram lereng Gunung Lawu, penampilan Sendratari Garuda berhasil memukau ribuan penonton.
Karya kolaboratif antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dan ISI Solo itu menjadi kado istimewa peringatan Hari Jadi Ke-108 Kabupaten Karanganyar.
Sendratari yang digarap selama satu tahun itu menampilkan kisah klasik Garuda yang rela berkorban demi membebaskan ibunya, Dewi Winata.
Dengan 12 penari dan 10 musisi pengiring, karya ini disutradarai oleh Fawatri Kendrawati dan mengangkat nilai-nilai luhur yang terpahat pada relief Candi Sukuh.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Manggar Sari Atuwati mengungkapkan, garapan ini berangkat dari kajian mendalam terhadap relief dan mitologi di Candi Sukuh.
”Kami mencoba mentransformasikan pahatan batu menjadi bahasa gerak yang hidup. Dari sana muncul pesan spiritual tentang pengorbanan, kesetiaan, dan pembebasan dari keburukan menuju kesucian,” jelasnya.
Tak hanya sarat makna, penampilan tersebut juga menjadi simbol sinergi antara dunia akademik seni dan pemerintah daerah dalam menghidupkan kembali budaya lokal.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karanganyar Hari Purnomo menyebut Sendratari Garuda sebagai karya monumental.
”Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi ikon baru daerah. Kami ingin karya ini menginspirasi sanggar-sanggar seni Karanganyar untuk terus berinovasi,” ujarnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Gebyar Ekonomi Kreatif Karanganyar yang berlangsung sejak Kamis (30/10/2025) hingga Minggu (2/11/2025).
Ke depan, Pemkab Karanganyar dan ISI Solo akan mengadakan pelatihan tari bagi sanggar-sanggar lokal agar sendratari ini dapat dikembangkan dan diwariskan.
Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas karya tersebut akan diserahkan kepada Pemkab sebagai bentuk pelestarian budaya.
Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Bupati Karanganyar Adhe Eliana menyampaikan rasa syukur atas suksesnya pergelaran.
”Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan lancar. Terima kasih kepada ISI Solo dan para seniman muda yang telah berkolaborasi. Semoga kegiatan budaya dan ekonomi kreatif seperti ini memberi dampak nyata bagi UMKM serta pertumbuhan ekonomi masyarakat,” tutur Adhe.
Dia menambahkan, potensi wisata dan budaya Karanganyar sangat luar biasa dan harus terus digali.
”Kolaborasi antara seni, budaya, dan ekonomi kreatif harus terus didorong agar menjadi kekuatan baru dalam memajukan Karanganyar,” tegasnya.
Dengan tata artistik megah, musik simbolik, dan visualisasi yang memukau, Sendratari Garuda menjadi bukti bahwa warisan masa lalu dapat terus hidup melalui kreativitas generasi masa kini, sekaligus persembahan terbaik untuk Karanganyar di usia 108 tahun. (rud/adi)
Editor : Adi Pras