RADARSOLO.COM – Warga Gajahan, Kelurahan Popongan, Kecamatan Karanganyar dibuat kaget dengan perobohan sebuah bangunan rumah joglo mewah.
Rumah milik seorang pendatang bernama Agung itu diratakan dengan alat berat pada Senin (24/11/2025) siang. Rumah teresbut berdiri kokoh selama sekitar enam tahun terakhir.
Ketua RT 1 RW 7 Dukuh Gajahan, Edi Mulyono mengungkapkan, dirinya menerima kabar perobohan tersebut hanya beberapa hari sebelumnya. Lantaran saat itu ia sedang bekerja di Surabaya.
”Sabtu malam saya ditelepon. Senin minta izin mau merobohkan rumah joglo itu. Saya sempat tanya kenapa dirobohkan, tapi Pak Agung menjawab ada urusan keluarga. Katanya saya tidak perlu tahu, yang penting dimintai izin,” ujarnya.
Menurut Edi, proses perobohan berlangsung sekitar dua jam menggunakan alat berat. Joglo yang diketahui lebih banyak menggunakan material kayu tersebut sudah berdiri kurang lebih lima hingga enam tahun. Meski bentuknya terbilang mewah, bangunan itu ternyata jarang ditempati.
”Setahu saya rumah itu hanya dipakai singgah. Pemilik sempat berinteraksi dengan warga sekitar selama kurang lebih tiga tahun,” tambahnya.
Warga sekitar pun sempat mempertanyakan alasan perobohan mendadak tersebut. Namun pihak RT menegaskan mereka memilih tidak ikut campur karena menyangkut persoalan pribadi keluarga pemilik rumah.
”Kalau soal masalah keluarga, tidak ada yang tahu. Bahkan penjaga malam saja tidak tahu-menahu. Pak Agung dan istrinya ini pendatang. Saya hanya dimintai izin untuk proses perobohan dan diminta menjaga selama pelaksanaan,” jelas Edi.
Dua juga menyampaikan permohonan maaf kepada warga sekitar atas aktivitas pembongkaran yang sempat menimbulkan keramaian.
”Saya sudah menyampaikan ke warga. Karena materialnya kebanyakan kayu, jadi ramai saat dibongkar,” katanya.
Meski sempat menjadi perbincangan, warga Gajahan disebut tetap menghormati keputusan pemilik rumah.
Baca Juga: Korsleting di Kamar Ludeskan Dua Rumah di Tanon Sragen, Kerugian Ditaksir Rp 150 Juta
”Awal datang ke sini, Pak Agung juga aktif srawung dengan warga. Jadi kami memilih menghargai urusan pribadi mereka,” tandas Edi. (rud/adi)
Editor : Adi Pras