RADARSOLO.COM - DI tengah udara dingin yang menusuk tulang di sekitar basecamp pendakian Bukit Mongkrang, Tawangmangu, seorang pria paruh baya tampak duduk termangu. Matanya yang sembab tak lepas menatap puncak bukit yang tertutup kabut. Ia adalah Sapto, 54, sang ayah yang kini sedang bertaruh dengan waktu dan rasa cemas demi kepulangan putra tercintanya, Yasid Ahmad Firdaus.
Sudah tiga hari berlalu sejak Yasid dilaporkan hilang pada Minggu (18/1). Bagi Sapto dan istrinya, Rusti, waktu seolah membeku. Mereka enggan beranjak dari pintu rimba itu, memilih bermalam di basecamp demi menjadi orang pertama yang menyambut Yasid jika tim SAR berhasil menemukannya.
Yasid bukanlah pendaki amatir yang tak mengenal medan. Di mata Sapto, anak ketiganya itu adalah pemuda yang sangat mencintai alam. Kawasan pegunungan adalah taman bermainnya, tempat ia menyalurkan hobi lari lintas alam atau trail run.
“Anak saya memang senang olahraga lari gunung. Kalau ke Mongkrang ini sebenarnya sudah tiga sampai empat kali naik,” ujar Sapto lirih kepada Jawa Pos Radar Solo, mencoba mengingat kembali ketangguhan putranya.
Pendakian kali ini pun awalnya terasa biasa. Yasid berangkat bersama teman-teman alumni SMA-nya untuk melepas rindu sekaligus mencari udara segar pegunungan. Tak ada firasat buruk, tak ada pesan aneh. Yasid berpamitan dengan senyum seperti biasanya sebelum memacu motornya menembus fajar pukul 04.30 WIB.
Kehangatan rumah di Colomadu kini tergantikan oleh dinginnya tenda pencarian. Sejak Minggu malam, Sapto dan Rusti sudah "berkantor" di basecamp Mongkrang. Setiap kali ada relawan atau tim SAR yang turun dari atas bukit, harapan mereka membuncah, namun kembali layu saat mendengar kabar yang masih nihil.
"Kami hanya berharap ada kabar baik dari tim pencari," kata Sapto singkat. Kalimat itu pendek, namun memuat beban doa yang amat berat. Baginya, setiap detik adalah harapan, dan setiap langkah tim gabungan adalah tumpuan.
Saat ini, operasi kemanusiaan skala besar masih berlangsung. Puluhan personel dari TNI, Polri, BPBD, hingga relawan lintas organisasi masih menyisir ceruk-ceruk tersembunyi di Bukit Mongkrang. Mereka bertaruh dengan cuaca ekstrem demi menemukan Yasid.
Di sela-sela riuh radio panggil dan langkah kaki petugas, Sapto masih setia menunggu. Baginya, Bukit Mongkrang tak boleh menyimpan putranya selamanya. Ia ingin Yasid kembali, membawa pulang hobi lari gunungnya, dan kembali bercerita tentang indahnya puncak bukit di meja makan rumah mereka. (rud/bun)
Editor : Kabun Triyatno