Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kirab Gunungan Palawija Warnai Napak Tilas 271 Tahun Perjanjian Giyanti di Jantiharjo Karanganyar

Rudi Hartono RS • Minggu, 15 Februari 2026 | 10:41 WIB
Gunungan palawija dibawa memasuki areal Situs Giyanti saat acara Napak Tilas 271 Tahun Perjanjian Giyanti. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Gunungan palawija dibawa memasuki areal Situs Giyanti saat acara Napak Tilas 271 Tahun Perjanjian Giyanti. (Rudi Hartono/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Suasana di Dusun Kerten, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar seketika berubah meriah pada Jumat (13/2/2026) malam.

Ratusan warga tumpah ruah memadati areal Situs Giyanti untuk merayakan Napak Tilas 271 Tahun Perjanjian Giyanti, peristiwa diplomatik yang menjadi cikal bakal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Meski dikemas lebih sederhana pasca-fokus agenda nasional tahun lalu, ruh budaya tetap terasa kental.

Iring-iringan kirab gunungan palawija dan arum manis menjadi magnet utama.

Tradisi itu menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap tanah yang menjadi saksi bisu peristiwa pembelahan Kerajaan Mataram Islam atau yang dikenal sebagai Palihan Nagari.

Sekretaris Paniradya Kaistimewan DIY, Ariyanti Luhur Tri Setyarini, yang hadir langsung dalam acara tersebut menyebut Situs Giyanti sebagai “akar tunggang” sejarah lahirnya Jogjakarta.

“Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 adalah titik awal lahirnya Ngayogyakarta Hadiningrat. Di sinilah Pangeran Mangkubumi mendapatkan wilayah yang kini menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Cikal bakalnya dari sini, maka bagi kami, ini adalah akar sejarah yang sangat kuat,” ungkapnya.

Ariyanti juga mengaku kagum terhadap semangat masyarakat lokal.

Meski koordinasi pelaksanaan kegiatan tahun ini tergolong singkat, atmosfer sakral dan antusiasme warga tidak luntur.

“Kami berharap ke depan kolaborasi antara Pemerintah DIY dan Karanganyar bisa lebih erat untuk memperingati momentum ini secara lebih kolosal,” ujarnya.

Senada, Pemerintah Kabupaten Karanganyar melalui Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Hari Purnomo menyampaikan apresiasi tinggi, khususnya bagi warga Kerten.

Menurut dia, acara tersebut bukan hanya merawat ingatan sejarah, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat besar sekali. Kita lihat UMKM berjajar sepanjang jalan, semuanya ramai. Ini membuktikan bahwa budaya bisa berdampak langsung pada kesejahteraan warga,” katanya.

Saat ini Napak Tilas Giyanti masih dalam proses kurasi untuk menembus Kalender Event Nasional (KEN).

Meski persaingan ketat, Pemkab Karanganyar tetap optimistis.

“Persaingan di tingkat kementerian memang ketat karena banyak daerah yang mengusulkan event unggulan. Namun, dengan potensi sejarah yang begitu besar, kami akan terus mendorong agar Napak Tilas Giyanti mendapat pengakuan nasional,” imbuhnya.

Perayaan ke-271 ini seolah mengirim pesan kuat bahwa identitas besar Yogyakarta dan kebanggaan Karanganyar berpijak pada satu titik diplomasi yang terjadi ratusan tahun silam di sebuah desa kecil bernama Giyanti. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#kirab #karanganyar #Perjanjian Giyanti #gunungan