Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Hari Kartini, Farida Rober Christanto Ajak Perempuan di Karanganyar Mandiri dan Mengabdi Sepenuh Hati

Rudi Hartono RS • Selasa, 21 April 2026 | 13:15 WIB
Farida Nurhayati saat mendampingi suaminya, Bupati Karanganyar Rober Christanto dalam tugas kedinasan pemkab, beberapa waktu lalu. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Farida Nurhayati saat mendampingi suaminya, Bupati Karanganyar Rober Christanto dalam tugas kedinasan pemkab, beberapa waktu lalu. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM - Perjalanan hidup Farida Rober Christanto tidak dibangun dalam semalam. Jauh sebelum dikenal sebagai istri bupati Karanganyar, ia telah menapaki jalan panjang pengabdian sebagai seorang dokter sekaligus aktivis sosial di tengah masyarakat.

Di balik perannya saat ini, tersimpan kisah masa kecil yang sederhana namun membentuk karakter kuat.

Perempuan yang kini aktif di berbagai kegiatan sosial itu mengaku tumbuh dalam lingkungan keluarga yang disiplin dan penuh tanggung jawab.

”Masa kecil saya selalu diajarkan disiplin dan tanggung jawab,” ujarnya kepada Radarsolo.com, Selasa (21/4/2026).

Baca Juga: Pimpin Ziarah Kartini Karanganyar, Sumanto Tegaskan Jas Merah dan Warisan Perjuangan Nyi Ageng Karang

Sejak kecil, Farida sudah memiliki cita-cita yang jelas. Ia ingin menjadi dokter atau dosen—pilihan yang menunjukkan ketertarikannya pada dunia pendidikan dan pengabdian.

Pilihan itu kemudian mengantarkannya menjadi seorang dokter. Bahkan sebelum mendampingi suaminya di dunia pemerintahan, ia telah aktif dalam berbagai organisasi profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan lembaga kesehatan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mudah. Ia mengaku harus belajar mandiri sejak dini, terutama setelah ditinggal sang ibu.

Baca Juga: Peringatan Hari Kartini ke-147 di Klaten: Bupati Hamenang Ajak Perempuan Terus Bermimpi dan Berdikari

”Karena ibu saya sudah meninggal sejak lama, saya terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Mandiri, berdikari,” ungkapnya.

Kondisi tersebut justru membentuknya menjadi pribadi yang kuat dan dekat dengan masyarakat.

Sejak dulu, ia sudah aktif bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Mulai dari mengikuti pengajian, arisan, hingga berbaur dengan tetangga.

Aktivitas sosial itu bukan sekadar formalitas. Ia benar-benar terlibat langsung, bahkan membuka praktik dokter di rumah yang sering kali lebih banyak melayani warga tanpa bayaran.

”Yang tidak bayar malah lebih banyak. Bahkan ada yang datang untuk pinjam uang, itu sudah biasa,” katanya sambil tersenyum.

Baca Juga: Muscab PKB Sragen Memanas, 11 Nama Masuk Bursa Calon Ketua

Baginya, membantu masyarakat bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari panggilan hidup.

Perjalanan tersebut membuatnya tidak merasa kaget ketika mendampingi suaminya, Rober Christanto dalam dunia pemerintahan. Baik saat masih menjadi istri wakil bupati hingga kini sebagai istri bupati Karanganyar.

Menurutnya, tidak banyak perubahan dalam dirinya. Ia hanya merasakan peningkatan intensitas kegiatan dan tanggung jawab.

”Enggak banyak yang berubah. Saya sudah terbiasa bertemu masyarakat, berbicara di depan umum, dan turun ke desa-desa. Itu sudah pekerjaan saya sejak dulu,” jelasnya.

Baca Juga: Wajah Baru Karanganyar: Kereta Gantung Mitis hingga Wahana Kereta Kebun Teh Manjakan Wisatawan

Kini, dengan posisi yang lebih dikenal publik, frekuensi undangan dan kegiatan sosialnya semakin meningkat.

Ia menyadari semakin aktif dirinya, semakin banyak pula masyarakat yang membutuhkan kehadirannya.

”Ada saja yang mengundang. Buat saya, itu berarti saya masih bermanfaat. Mereka menunggu kehadiran saya, jadi sebisa mungkin saya datang,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam membagi waktu antara tugas sosial dan kehidupan keluarga.

”Tantangannya itu membagi waktu. Kadang saya dan Pak Rober sama-sama sibuk, jadi sulit bertemu,” ungkapnya.

Namun, ia memandang semua itu sebagai bagian dari konsekuensi pengabdian. Baginya, selama masih bisa memberi manfaat bagi orang lain, semua tantangan tersebut layak dijalani.

Baca Juga: Warga Karangtengah Sragen Ubah Sampah Jadi Berkah

Perjalanan Farida Rober Christanto menjadi gambaran nyata bahwa pengabdian tidak mengenal batas peran. 

Dari seorang dokter yang melayani warga desa, aktivis organisasi, hingga kini menjadi figur publik di Karanganyar, ia tetap berjalan di jalur yang sama: melayani dan memberi manfaat.

Di tengah berbagai kesibukannya, satu hal yang tetap ia pegang teguh adalah nilai kemandirian dan kepedulian terhadap sesama—nilai yang telah tertanam sejak masa kecilnya. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#Farida Rober Christanto #Bupati Karanganyar Rober Christanto #pkk #Hari Kartini