RADARSOLO.COM – Ajang graffiti internasional Meeting of Styles (MOS) 2026 kembali menjadi magnet bagi seniman urban dunia.
Sebanyak 50 seniman graffiti dari 19 negara ambil bagian dalam event yang digelar di Desa Pulosari, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar, Sabtu (16/5/2026) hingga Minggu (17/5/2026).
Kehadiran puluhan graffiti artist lintas negara tersebut menjadikan MOS sebagai salah satu pertemuan seniman jalanan terbesar di Indonesia.
Baca Juga: 30 KDMP di Karanganyar Siap Beroperasi, Tegaskan Perekrutan Pegawai lewat BUMN
Para peserta datang dari berbagai belahan dunia seperti Rusia, Yunani, Australia, India, Jepang, Korea Selatan, Thailand, hingga sejumlah negara Asia Tenggara.
Penanggung jawab acara, Iwan Adranacus mengatakan antusiasme peserta internasional tahun ini menunjukkan bahwa MOS semakin diperhitungkan di kalangan seniman urban dunia.
“Yang kami rasakan tahun ini semuanya makin matang. Suasana kerja sama antarpanitia, peserta, dan para graffiti artist dari luar negeri maupun domestik terasa lebih mantap,” ujarnya di area BAS, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga: 49 SMPN di Sragen Masih Kekurangan Guru di Tengah Rencana Penghapusan Honorer
Menurut Iwan, sebagian besar peserta internasional yang hadir merupakan seniman senior yang sudah cukup dikenal di dunia graffiti.
Kondisi tersebut membuat proses kolaborasi selama acara berlangsung lebih cepat dan profesional.
“Karena lineup tahun ini kebanyakan senior, jadi mereka sudah sangat familiar dengan event ini. Itu yang membuat suasananya lebih cair dan profesional,” katanya.
Baca Juga: DPRD Karanganyar Desak Maksimalkan Hanggar dan Tambahan Truk di TPA Sukosari
Selama dua hari pelaksanaan, para seniman menampilkan karya mural dan graffiti dengan beragam karakter visual khas masing-masing negara.
Tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, MOS juga menjadi ruang bertukar ide dan budaya antar seniman urban dunia.
Tahun ini, MOS mengangkat tema Togetherness atau kebersamaan. Tema tersebut dipilih sebagai pesan perdamaian di tengah situasi geopolitik dunia yang dinilai semakin memanas.
“Kami merasa dunia sedang terpecah-belah dengan situasi geopolitik yang luar biasa panas. Karena itu masyarakat dunia perlu diingatkan tentang pentingnya kebersamaan,” terang Iwan.
Meski mendapat antusiasme besar, situasi global turut memengaruhi pelaksanaan acara. Sejumlah seniman dari Prancis, Belanda, dan Jerman batal hadir akibat pembatalan penerbangan yang terjadi pada Maret lalu.
“Ada beberapa cancellation dari Eropa Barat. Tapi kami bersyukur peserta dari Eropa Timur akhirnya tetap bisa konfirmasi hadir di minggu-minggu terakhir,” ungkapnya.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, Dispertan PP Karanganyar Waspadai Tiga Penyakit Hewan Ternak
MOS sendiri pertama kali digelar pada 2022 dan terus berkembang menjadi event graffiti internasional tahunan yang mulai diperhitungkan di komunitas seni urban dunia. (rud/adi)
Editor : Adi Pras