Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Proyek Infrastruktur di Karanganyar Macet, Imbas Aspal Langka

Rudi Hartono RS • Kamis, 21 Mei 2026 | 18:04 WIB

 

Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Karanganyar Titis Sri Jawoto beberkan kendala proyek infrastruktur di Karanganyar. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Karanganyar Titis Sri Jawoto beberkan kendala proyek infrastruktur di Karanganyar. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Gejolak geopolitik global dan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) mulai menghantam proyek pembangunan daerah.

Sejumlah pekerjaan fisik di Kabupaten Karanganyar kini direm lantaran harga material konstruksi melonjak dan pasokan aspal di lapangan makin sulit diperoleh.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar terpaksa mengevaluasi ulang sejumlah paket proyek agar tetap bisa dikerjakan dan diminati rekanan.

Baca Juga: Kasdam IV/Diponegoro Tutup TMMD Reguler Ke-128 di Sragen

Jika dipaksakan menggunakan hitungan lama, proyek dikhawatirkan sepi peminat karena nilai rencana anggaran biaya (RAB) sudah tak sesuai kondisi pasar.

Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Karanganyar Titis Sri Jawoto mengakui situasi saat ini cukup pelik.

Menurutnya, kenaikan harga bahan konstruksi dipicu konflik geopolitik dunia yang mengganggu rantai pasok material, ditambah pelemahan rupiah terhadap dolar AS.

Baca Juga: 316 PPPK Baru Pemkab Karanganyar Digembleng

”Pekerjaan-pekerjaan fisik di Karanganyar beberapa memang sedang dipending dulu atau direm dulu karena ada penyesuaian-penyesuaian harga bahan yang akan dipakai di konstruksi,” ujar Titis, Kamis (21/5/2026).

Titis menjelaskan, sejumlah proyek jalan bahkan mulai dipertimbangkan berganti spesifikasi. Ruas yang semula dirancang menggunakan aspal kemungkinan dialihkan menjadi beton demi menyesuaikan kondisi material di lapangan.

”Jalan misalnya yang tadinya aspal, kemungkinan kita geser jadi beton,” ujarnya.

Baca Juga: Kunjungi Sragen, Menteri UMKM Sebut Rupiah Loyo Bukan Salah Fundamental Kita

Namun, perubahan itu bukan tanpa konsekuensi. Beton memang lebih mudah didapat, tetapi biayanya jauh lebih mahal dibanding aspal. Akibatnya, volume pekerjaan terancam menyusut.

”Kalau nekat dengan aspal, ya pasti volumenya yang akan berkurang. Tapi barangnya juga enggak ada. Aspal sebenarnya lebih murah, beton lebih mahal,” tegasnya.

Kondisi tersebut juga berpotensi memunculkan persepsi negatif di masyarakat. Sebab, panjang jalan yang dikerjakan bisa lebih pendek dibanding rencana awal karena biaya konstruksi membengkak.

Baca Juga: Libur Idul Adha 2026 Berapa Hari? Intip Peluang Long Weekend 6 Hari dan Jadwal Resmi Pemerintah

”Masyarakat juga harus menyadari. Kalau misalnya tadinya nek pakai aspal selesai, ini pakai beton malah enggak selesai. Karena harga paketnya lebih mahal per meter perseginya,” jelas Titis.

Saat ini Pemkab Karanganyar masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah provinsi, terutama untuk proyek yang bersumber dari bantuan keuangan (bankeu).

Sementara itu, seluruh paket fisik masih dalam tahap penyesuaian agar proyek tetap bisa berjalan di tengah tekanan ekonomi global.

Baca Juga: Gowes Bareng Dubes Belanda dan Jerman Keliling Prambanan Klaten, Bupati Hamenang Kenalkan Potensi Budaya dan Sejarah Lokal

Tak hanya proyek jalan, tahun ini Pemkab Karanganyar juga memastikan tidak ada pembangunan gedung baru yang dilakukan pemerintah daerah. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#karanganyar #aspal #pemkab karanganyar #geopolitik #Bankeu