RADARSOLO.COM – Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar terus bergerak membangun potensi ekonomi berbasis alam dan pertanian.
Desa di lereng Gunung Lawu itu kini menyiapkan lahan seluas 10 hektare untuk kebun stroberi dengan sistem tumpang sari.
Letak geografis Desa Gondosuli di lereng Gunung Lawu, menyajikan panorama alam dan kesejukan udara alami, serta kesuburan tanah. Ini berpotensi menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke desa kecil tersebut.
Nah, potensi itu ditangkap dengan baik oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Gondosuli. Berupa pengembangan sektor agrowisata dari kebun stroberi.
Baca Juga: Pria Telanjang Terekam CCTV Berkeliaran di Gondangrejo Karanganyar
Di mana pengunjung yang datang tidak hanya mencicipi kesegaran buah stroberi, namun juga sensasi memetik langsung dari kebunnya.
Kepala Desa (Kades) Gondosuli Pangat menjelaskan, pengembangan kawasan agrowisata stroberi dilakukan untuk membuka peluang ekonomi baru warganya. Maka disiapkan lahan seluas 10 hektare, dengan sistem tumpang sari.
“Kebun stroberi ditanam dengan pola tumpang sari dengan sayuran sawi. Kami ingin kawasan ini berkembang menjadi wisata petik stroberi, sekaligus meningkatkan pendapatan warega Gondosuli,” jelas Pangat, Jumat (29/5/2026).
Menurut Pangat, konsep wisata berbasis pertanian dipilih karena memiliki prospek jangka panjang yang cukup menjanjikan.
Baca Juga: Seorang Istri Nekat Sembunyikan "Paket Komplit" Narkoba di Balik Pembalut saat Besuk di Lapas Sragen
Selain memberikan nilai tambah pada hasil pertanian, juga mampu menarik minat wisatawan yang selama ini banyak berkunjung ke kawasan Tawangmangu dan lereng Gunung Lawu.
Selain itu, Desa Gondosuli dikenal sebagai salah satu desa tertinggi di Bumi Intanpari. Letaknya di kawasan dataran tinggi, dengan suhu udara dingin serta tanah subur.
Kondisi alam tersebut menjadikan Gondosuli sangat cocok untuk pengembangan pertanian hortikultura, maupun sektor pariwisata berbasis alam.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Komoditas unggulan yang banyak dibudidayakan warga antara lain wortel, bawang merah, sawi, serta berbagai jenis sayuran dataran tinggi lainnya.
kBaca Juga: Gudang Kayu untuk Produksi Rambak Kulit di Jumantono Karanganyar Terbakar
Kini, stroberi mulai dilirik sebagai komoditas baru yang dinilai memiliki potensi ekonomi lebih besar.
Selain memiliki harga jual cukup tinggi, tanaman stroberi juga dinilai cocok dikembangkan menjadi daya tarik wisata.
“Kalau hanya dijual hasil panennya, nilainya terbatas. Tapi kalau dikembangkan menjadi wisata petik, dampaknya lebih luas. Ada pemasukan dari wisata, hasil panen, hingga peluang usaha lain bagi warga,” jelas Pangat.
Pangat menambahkan, pengembangan wisata petik stroberi diharapkan dapat menciptakan efek domino bagi perekonomian masyarakat.
Warga nantinya tidak hanya terlibat sebagai petani, tetapi juga dapat membuka usaha pendukung seperti kuliner, parkir, homestay, hingga penjualan oleh-oleh khas desa.
Tidak hanya itu, dalam beberapa tahun terakhir warga mulai aktif mengembangkan berbagai produk olahan berbasis hasil bumi lokal. Sektor ini dikembangkan oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Berbagai produk olahan mulai dipasarkan, mulai dari keripik sayur, olahan wortel, hingga bawang merah goreng kemasan.
Produk-produk tersebut dikembangkan bersama kelompok PKK, dengan pendampingan dari kalangan akademisi untuk meningkatkan kualitas produksi maupun pemasaran.
Baca Juga: Bikin Konten Pocong, Tiga ABG asal Karangmalang Diamankan Polres Sragen
Pangat mengatakan, pengembangan UMKM menjadi bagian penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.
Dengan adanya produk olahan, hasil pertanian warga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibanding hanya dijual dalam bentuk mentah.
“Selama ini hasil pertanian kadang harganya naik turun. Maka kami dorong supaya ada produk olahan, agar nilai jualnya lebih baik dan bisa menjadi ciri khas Gondosuli,” bebernya.
Pangat optimistis pengembangan agrowisata stroberi akan menjadi magnet baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
“Harapannya, ekonomi warga semakin baik dan anak-anak muda tertarik untuk ikut mengembangkan potensi desa,” ujarnya. (rud/fer)
Editor : Adi Pras