Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Hasil Musancab PDIP Karanganyar Dikritik: Orang Baru Masuk Struktur, Dinilai Rusak Jati Diri Partai

Rudi Hartono RS • Senin, 1 Juni 2026 | 19:09 WIB
Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan Karanganyar untuk menentukan pengurus anak cabang (PAC) masa bakti 2025–2030. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan Karanganyar untuk menentukan pengurus anak cabang (PAC) masa bakti 2025–2030. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Hasil Musyawarah Anak Cabang (Musancab) PDI Perjuangan Karanganyar yang telah menetapkan kepengurusan pengurus anak cabang (PAC) masa bakti 2025–2030 menuai beragam respons dari internal kader.

Di satu sisi, penataan organisasi tersebut disebut sebagai bagian dari regenerasi partai. Namun di sisi lain, sejumlah kader senior menilai terdapat kebijakan yang berpotensi menggeser jati diri partai.

Mantan Ketua PAC PDIP Mojogedang sekaligus mantan Ketua Banteng Muda Indonesia (BMI) Karanganyar Indardi Heru Santoso menjadi salah satu kader yang menyampaikan kritik terhadap hasil musancab tersebut. Ia menyoroti adanya figur dari luar wilayah yang dipercaya memimpin PAC.

Baca Juga: Hari Lahir Pancasila, Bupati Karanganyar Ajak Warga Jaga Persatuan

”Saya sangat menyayangkan. PDI Perjuangan Karanganyar mulai mencoba menghilangkan jati diri partai sebagai basisnya wong cilik,” kata Heru kepada Radarsolo.com, Senin (1/6/2026).

Menurut dia, penempatan ketua PAC yang berasal dari luar wilayah berpotensi memunculkan kesan bahwa kepentingan kelompok tertentu lebih diutamakan dibanding proses kaderisasi yang tumbuh dari akar rumput.

”Kalau ketua PAC diisi orang dari luar daerah, artinya hanya mementingkan kepentingan kelompok saja. Ini berbahaya ke depan,” tegasnya.

Baca Juga: Kritik Pernyataan Gubernur Jateng, Politisi Sragen: Semua Jalan Penting

Heru menilai semangat perjuangan yang selama ini dipegang PDIP adalah memperjuangkan aspirasi rakyat kecil, bukan sekadar mengejar posisi dan jabatan politik.

Ia juga mengkritisi munculnya figur-figur baru yang dinilai mendapatkan posisi strategis dalam waktu relatif singkat.

”Mereka yang baru masuk, punya modal, kemudian menjadi anggota dewan dan sekarang ditugaskan memimpin PAC, itu bisa merusak jati diri partai. Ideologi Sukarnoisme tidak mengenal dominasi kapital dalam perjuangan politik,” ujarnya.

Baca Juga: Polres Karanganyar Siagakan Personel Antisipasi Gesekan Antarperguruan Silat

Ia khawatir pragmatisme politik yang berkembang di internal partai dapat mengikis loyalitas kader akar rumput yang selama ini menjadi basis utama PDIP.

”Kalau sikap-sikap seperti itu terus terjadi, PDIP bisa terkikis dari arus bawah. Pada akhirnya partai akan ditinggalkan kader dan basis kulturalnya,” ungkap Heru.

Di sisi lain, hasil musancab yang telah digelar di 17 kecamatan tersebut merupakan bagian dari program regenerasi organisasi yang didorong DPD PDIP Jawa Tengah.

Struktur PAC periode 2025–2030 kini didominasi wajah-wajah baru, termasuk kalangan milenial dan generasi muda yang diproyeksikan menjadi ujung tombak partai menghadapi Pemilu 2029.

Baca Juga: Lalai saat Masak Daging Kurban, Rumah Warga Sragen Terbakar: Mobil dan Motor Ikut Hangus

Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Dolfie Othniel Frederic Palit menegaskan, regenerasi kepengurusan merupakan kebutuhan strategis partai.

Menurutnya, PDIP kini mewajibkan keterlibatan generasi muda dalam setiap jenjang kepengurusan, mulai tingkat PAC, ranting hingga anak ranting.

”Kita harus melihat ke depan. Di Karanganyar saja ada sekitar 2.000 anak ranting. Dengan formula minimal dua anak muda per ranting, kita sudah mengunci 4.000 pasukan muda di tingkat akar rumput. Ini membuat kita jauh lebih siap karena pemilih di 2029 nanti mayoritas adalah generasi muda,” ujarnya. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#musancab #karanganyar #pdip #dpc pdip karanganyar #Dolfie Othniel Frederic Palit