Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Dari Lereng Lawu Karanganyar, Merti Gunung Serukan Harmoni Manusia dengan Alam

Rudi Hartono RS • Senin, 29 Juni 2026 | 13:00 WIB

 

Gelaran Mapag Padhang Bulan 2026, di Desa Kemuning, Ngargoyoso, Minggu (28/6/2026) malam. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Gelaran Mapag Padhang Bulan 2026, di Desa Kemuning, Ngargoyoso, Minggu (28/6/2026) malam. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM - Pagelaran budaya Merti Gunung bertajuk Mapag Padhang Bulan 2026 berlangsung khidmat sekaligus meriah di Pelataran Padepokan Ismoyo Tunggal, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Minggu (28/6/2026) malam. 

Kegiatan yang digelar di lereng Gunung Lawu tersebut menjadi upaya nyata dalam merawat dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Perhelatan yang diinisiasi Chandra Saputra selaku penyelenggara sekaligus pembina paguyuban dan dikurasi Ramadhan Isnain itu memadukan ritual sakral dengan pertunjukan seni tradisional.

Baca Juga: Kunjungan ke Karanganyar, Menko Pangan: Emas, Nikel, Batu Bara Itu Punya Negara, tapi Dikasih Bupati ke Pengusaha

Ratusan warga tampak memadati area padepokan untuk mengikuti seluruh rangkaian acara.

Acara diawali dengan Kirab Budaya pada pukul 19.00 WIB. Gunungan hasil bumi diarak mengelilingi kawasan padepokan dipimpin para sesepuh adat dan diikuti pemuda-pemudi mengenakan busana tradisional Jawa.

Prosesi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berkah kesuburan alam.

Baca Juga: Minibus Wisatawan Terbakar di Tol Solo-Ngawi Sragen, Bawa Sebelas Penumpang

Suasana semakin semarak ketika kelompok seni Jathilan Turonggo Jati tampil di panggung utama sekitar pukul 20.00 WIB.

Penampilan tari yang enerjik disertai atraksi teatrikal mampu memukau ratusan penonton yang hadir.

Sesepuh Padepokan Ismoyo Tunggal, Eyang Podho Sunarma, mengatakan tema Merti Gunung sengaja diangkat bertepatan dengan momentum Wulan Sura atau Wulan Hasara sebagai bentuk pengingat hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan alam.

Baca Juga: DPRD Karanganyar Desak Regrouping SDN Krisis Murid

"Manusia hidup berdampingan dengan alam. Bumi diambil hasilnya, dipakai untuk hidup, dan kelak juga menjadi tempat kembali. Namun, sekarang banyak manusia yang mulai lupa dengan kiblatnya," ujarnya.

Menurut Eyang Podho, kelestarian budaya menjadi salah satu penopang keberlangsungan sebuah bangsa.

Melalui budaya, masyarakat diharapkan kembali menyadari jati diri dan nilai-nilai luhur kehidupan.

Baca Juga: Disdikbud Sragen Bersiap Gabungkan SD Negeri secara Besar-besaran, Bagaimana Nasib Guru dan Kepala Sekolahnya?

Ia juga menegaskan pentingnya membedakan antara adat dan agama. 

"Kalau agama itu manembah kepada Yang Kuasa, sedangkan adat merupakan tata cara hidup masyarakat Jawa yang harus dilestarikan," tegasnya.

Sementara itu, Camat Ngargoyoso Danang Abimanyu yang hadir mewakili Bupati Karanganyar Rober Christanto menyampaikan pesan agar masyarakat terus menjaga persatuan dan kerukunan.

"Beliau menitipkan salam hormat dan pesan agar persatuan, guyub rukun, gotong royong, serta kekompakan masyarakat terus dijaga," kata Danang.

Baca Juga: Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Der Panzer Diunggulkan, Ini Analisis Lengkapnya

Selain menjaga harmoni sosial, Bupati juga berpesan agar masyarakat mampu menyeimbangkan kehidupan duniawi dengan nilai-nilai spiritual.

Menurutnya, keseimbangan tersebut menjadi bagian penting dari makna ritual Merti Gunung yang dilaksanakan masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya menikmati pertunjukan budaya, tetapi juga semakin memahami nilai-nilai filosofis dan spiritual yang diwariskan para leluhur. (rud/adi) 

Editor : Adi Pras
#merti gunung #ngargoyoso #PADEPOKAN #gunung lawu #karanganyar