RADARSOLO.COM – Ratusan warga memadati Lapangan Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Rabu (1/7/2026).
Mereka berebut sekitar 4.000 apem yang dibagikan dalam kirab budaya sebagai rangkaian Tradisi Wahyu Kliyu, warisan budaya tak benda tingkat nasional.
Kirab budaya dimulai dari rumah salah satu tokoh masyarakat menuju panggung utama di Lapangan Desa Jatipuro dengan menempuh jarak sekitar 500 meter.
Puluhan kelompok turut ambil bagian dengan membawa gunungan apem dan tenggok atau wadah bambu berisi apem.
Selain itu, peserta juga mengarak gunungan hasil bumi, jajanan pasar, hingga gunungan bakso.
Setibanya di panggung utama, apem yang dibawa peserta dilempar ke arah kerumunan warga.
Teriakan "Wahyu Kliyu" bergema setiap kali apem dilempar. Anak-anak, remaja hingga orang dewasa saling berdesakan untuk mendapatkan apem.
Suasana semakin menarik karena banyak warga memanfaatkan payung yang semula digunakan untuk berteduh sebagai alat menangkap apem.
Payung dibalik sehingga dapat menampung apem yang dilempar dari atas panggung.
Baca Juga: Jelang Hari Bhayangkara, 66 Personel Polres Karanganyar Pecah Bintang dan Pangkat
Salah seorang warga, Mulyati, 42, mengaku sengaja ikut berebut apem bersama anak laki-lakinya.
Dia menggunakan payung agar peluang mendapatkan apem lebih besar.
"(Pakai payung) cuma pengen dapat ini (apem), buat seru-seruan," ujarnya.
Menurut Mulyati, kirab gunungan apem menjadi tradisi yang patut dipertahankan karena mampu melestarikan budaya sekaligus menarik kunjungan wisatawan.
"Bisa jadi wisata budaya," katanya.
Baca Juga: HUT Bhayangkara ke-80 Polres Sragen: Kapolres Ingatkan Bahaya Kejahatan Siber
Kepala Desa Jatipuro Rakino mengatakan, Tradisi Wahyu Kliyu digelar setiap tahun pada bulan Suro.
Kirab budaya menjadi salah satu rangkaian kegiatan setelah Festival Karawitan yang diikuti 20 kelompok.
Selanjutnya akan digelar pagelaran wayang kulit dan pertunjukan kesenian lokal.
"Apem yang dibawa kirab hari ini tidak begitu banyak. Dari masing-masing RT, RW ditambah kelompok lain, sekitar 4.000 apem," ujarnya.
Rakino menjelaskan, puncak Tradisi Wahyu Kliyu akan digelar pada Rabu malam pukul 00.00 dengan jumlah apem yang lebih banyak dibanding kirab siang hari.
"Tujuannya untuk memohon ampunan dan kekuatan kepada Sang Pencipta agar dijauhkan dari marabahaya atau pageblug," pungkasnya. (rud/adi)
Editor : Adi Pras