Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Nestapa SDN 4 Seloromo di Karanganyar: Tak Dapat Murid Baru, Kini Tersisa 14 Siswa

Rudi Hartono RS • Kamis, 16 Juli 2026 | 19:38 WIB

 

Siswa SDN 4 Seloromo, Kecamatan Jenawi, Karanganyar tersisa 14 anak. Sekolah di lereng Gunung Lawu ini nihil pendaftar dalam SPMB tahun 2026. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Siswa SDN 4 Seloromo, Kecamatan Jenawi, Karanganyar tersisa 14 anak. Sekolah di lereng Gunung Lawu ini nihil pendaftar dalam SPMB tahun 2026. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Hari-hari pertama tahun ajaran baru biasanya identik dengan wajah-wajah baru yang memenuhi ruang kelas.

Namun suasana berbeda terlihat di SDN 4 Seloromo, Kecamatan Jenawi, Karanganyar. Di sekolah yang berada di kawasan perbukitan itu, tak ada satu pun murid baru yang datang pada awal tahun ajaran 2026/2027.

Kini, tersisa 14 siswa dari kelas 2 hingga kelas 6 yang masih bertahan di sekolah tersebut. Namun demikian, mereka tetap semangat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM).

Baca Juga: Revitalisasi SMPN 2 Karangpandan Digelontor Rp 2,3 Miliar

Guru Kelas 3 SDN 4 Seloromo, Dwi Nunung Susilowati mengatakan, sebenarnya sempat ada seorang calon siswa yang mendaftar. Namun, usianya belum memenuhi syarat untuk masuk SD.

”SD Seloromo 4 kebetulan tidak mendapatkan murid. Ada satu calon, tetapi usianya baru 5,1 tahun sehingga belum memenuhi syarat. Jadi sementara dititipkan dulu karena di sini juga tidak ada TK yang dekat,” ujarnya, Kamis (16/7/2026).

Kondisi tersebut berbeda dibanding tahun ajaran sebelumnya. Saat itu sekolah masih menerima seorang siswa baru sehingga kegiatan MPLS tetap dapat dilaksanakan.

Baca Juga: Polres Sragen Kerahkan Personel Bhabinkamtibmas Eliminasi TB Paru

”Kalau tahun kemarin masih ada satu siswa yang masuk,” katanya.

Menurut Nunung, berbagai cara telah dilakukan sekolah untuk menarik minat masyarakat menyekolahkan anaknya di SDN 4 Seloromo.

Para guru bahkan mendatangi rumah-rumah warga untuk memberikan informasi sekaligus mengajak calon siswa bersekolah di sana.

Baca Juga: Duh, Patung Garuda di Pertapaan Pringgodani Tawangmangu Raib Dicuri

Tak hanya itu, para guru juga secara swadaya menyediakan bantuan perlengkapan sekolah. Mereka patungan untuk membelikan seragam bagi siswa baru serta memberikan layanan les tambahan tanpa biaya.

”Ada seragam gratis setiap masuk sekolah, satu stel merah putih. Les juga gratis,” ungkapnya.

Meski demikian, jumlah anak usia sekolah di wilayah tersebut memang semakin sedikit. Kondisi itu diperparah dengan keterbatasan fasilitas dan jumlah siswa yang terus menurun dari tahun ke tahun.

Nunung mengakui, mengajar di sekolah dengan jumlah murid sangat sedikit membutuhkan dedikasi lebih.

Baca Juga: Tunggakan Pajak Kendaraan di Karanganyar Tembus Rp 33,6 Miliar

Para guru tidak hanya menjalankan tugas sebagai pendidik, tetapi juga berupaya menjaga keberlangsungan sekolah agar tetap berdiri.

”Memang kerja di sini rasa kemanusiaan harus ada. Yang kami cari ya barokahnya,” tuturnya.

Rencana regrouping atau penggabungan sekolah sebenarnya sempat diwacanakan beberapa waktu lalu.

Namun usulan tersebut mendapat penolakan dari para orang tua siswa karena lokasi sekolah lain dinilai terlalu jauh dan akan menambah beban biaya transportasi.

Baca Juga: DPRD Sragen Tuding Rekrutmen Pegawai BUMD Sarat Praktik Nepotisme

Mayoritas warga sekitar bekerja sebagai penyadap getah dan pencari kayu di kawasan hutan. Kondisi ekonomi keluarga menjadi pertimbangan utama ketika harus mengantar anak bersekolah ke lokasi yang lebih jauh.

”Orang tua di sini kebanyakan bekerja deres atau mencari kayu. Kalau sekolah dipindah lebih jauh tentu akan menambah biaya mereka," jelas Nunung.

Dengan keterbatasan ruang, proses pembelajaran juga harus dilakukan secara bergabung. Satu ruang digunakan untuk kelas 3, 4, 5, dan 6 secara bersamaan, sementara ruang lainnya dipakai untuk kelas 1 dan 2.

Baca Juga: Eks Kepala Diskuktrans ESDM Karanganyar Ajukan Pensiun Dini, Kejari Tegaskan Proses Hukum Lanjut

Selain ruang kelas, sekolah hanya memiliki beberapa fasilitas sederhana berupa ruang kepala sekolah yang juga difungsikan sebagai ruang guru dan UKS, mushala kecil, serta dapur.

”Kurang kondusif karena satu ruangan dipakai untuk empat kelas sekaligus,” tandasnya. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
jenawi karanganyar KBM regrouping murid baru