RADARSOLO.COM - Bagi masyarakat Karanganyar, Taman Pancasila sudah menjadi salah satu ruang publik yang paling dikenal. Setiap sore hingga malam hari, kawasan ini ramai dipenuhi warga yang berolahraga, bermain bersama keluarga, hingga berburu kuliner kaki lima. Siapa sangka jika sebelum menjadi taman kota seperti sekarang, kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
Jauh sebelum berdiri Monumen Pancasila dan plaza yang menjadi ciri khasnya saat ini, lokasi tersebut merupakan Pasar Karanganyar. Pada masanya, pasar ini menjadi pusat perdagangan utama di Kecamatan Karanganyar. Kondisinya masih sederhana dengan lantai tanah, tetapi hampir setiap hari dipadati pedagang dan pembeli dari berbagai wilayah di sekitarnya.
Tak hanya menjadi tempat bertransaksi, Pasar Karanganyar juga menyimpan banyak kenangan bagi warga. Berbagai kuliner tradisional pernah tumbuh di kawasan ini, termasuk warung-warung yang menjadi tempat berkumpul masyarakat setelah beraktivitas.
Perubahan besar terjadi pada 1977 ketika Pemerintah Kabupaten Karanganyar melakukan penataan pusat kota di bawah kepemimpinan Bupati Waluyo Cokro Darmanto. Saat itu, aktivitas perdagangan dipindahkan ke kawasan yang kini berkembang menjadi Pasar Bejen atau Pasar Tegalgede beserta Terminal Tegalgede. Relokasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menata wajah kota agar lebih tertib sekaligus menyediakan pusat perdagangan yang lebih memadai.
Setelah para pedagang direlokasi, bekas lahan pasar kemudian diubah menjadi ruang terbuka bagi masyarakat. Kawasan tersebut diberi nama “Taman Pancasila”, sebuah nama yang dipilih untuk mencerminkan semangat kebangsaan sekaligus menghadirkan ruang publik yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.
Baca Juga: Abaikan Regulasi, Open Trip Lawu via Cetho Karanganyar Di-Blacklist 2 Tahun
Seiring waktu, Taman Pancasila terus mengalami penataan. Salah satu perubahan yang paling mencolok adalah pembangunan plaza terbuka yang menjadi pusat aktivitas warga. Jika dulu area ini berupa hamparan tanah pasar, kini bagian tengah taman didominasi pelataran berlapis paving yang memudahkan berbagai kegiatan, mulai dari berjalan santai, bermain sepatu roda, hingga penyelenggaraan acara publik.
Di area tengah juga berdiri Monumen Pancasila yang dihiasi lambang Garuda Pancasila serta patung Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta. Kehadiran monumen tersebut menjadi identitas utama taman sekaligus pengingat akan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.
Kini, fungsi kawasan ini pun jauh berbeda dibandingkan puluhan tahun lalu. Jika dahulu menjadi tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, Taman Pancasila kini menjadi ruang berkumpul, berekreasi, berolahraga, hingga menikmati aneka kuliner pada sore dan malam hari. Berbagai kegiatan pemerintah, peringatan hari besar nasional, hingga festival daerah juga kerap digelar di kawasan ini.
Perjalanan Taman Pancasila menunjukkan bagaimana sebuah ruang di tengah kota dapat berubah mengikuti kebutuhan masyarakat. Dari pasar tradisional yang menjadi denyut nadi perekonomian, kawasan ini bertransformasi menjadi salah satu ikon Karanganyar yang tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga menyimpan cerita tentang perkembangan kota dari masa ke masa.
Editor : Kabun Triyatno