Waduk Delingan Karanganyar Mengering: Jadi Lahan Pertanian, Warga Berebut Ikan

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 15:44 WIB

 

Warga menjual ikan hasil tangkapan di dasar Waduk Delingan, Karanganyar yang mengering selama kemarau, Senin (20/7/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)
Warga menjual ikan hasil tangkapan di dasar Waduk Delingan, Karanganyar yang mengering selama kemarau, Senin (20/7/2026). (Arief Budiman/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Memasuki puncak musim kemarau, volume air Waduk Delingan di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar surut total hingga mengering.

Fenomena tahunan ini mengubah lanskap waduk menjadi daratan luas yang kini dimanfaatkan secara produktif oleh warga sekitar untuk sektor pertanian musiman.

​Lurah Delingan Sariman mengungkapkan, mengeringnya waduk tersebut justru membawa berkah tersendiri bagi masyarakat.

Area dasar waduk yang kini berubah menjadi hamparan tanah subur langsung dimanfaatkan warga untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan jangka pendek.

Baca Juga: Pemkab Karanganyar Perkuat Pendidikan Inklusif Sejak Usia Dini

”Biasanya kalau sudah asat seperti ini, tanahnya langsung digarap warga untuk lahan pertanian musiman. Mayoritas menanam tanaman palawija, seperti kacang-kacangan atau palawija,” ujar Sariman kepada Radarsolo.com, Senin (20/7/2026).

”Bahkan, ada juga yang nekat menanam padi jika dirasa pasokannya masih memungkinkan,” imbuhnya.

​Tak hanya bercocok tanam, surutnya air waduk juga memicu fenomena unik lainnya. Warga sekitar berbondong-bondong turun ke dasar waduk untuk mencari ikan yang terjebak di ceruk-ceruk air yang tersisa.

Baca Juga: Ratusan SDN di Sragen Krisis Pendaftar, Sekolah Favorit Justru Harus Tolak Siswa

Aksi berburu ikan masal ini sempat menjadi pusat perhatian dan kegembiraan tersendiri bagi masyarakat setempat pada akhir akhir ini.

”Kemarin teman-teman cerita, hari Sabtu itu ikannya banyak sekali. Warga pada pesta cari ikan di sana. Sayangnya saya malah tidak dikabari,” selorohnya.

​Kendati aktivitas warga di area waduk sangat dinamis selama musim kemarau, Sariman menegaskan bahwa pihak pemerintah kelurahan maupun pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan atas pemanfaatan lahan maupun pengelolaan air waduk tersebut.

Baca Juga: Gudang Pabrik Sendal di Kebakkramat Karanganyar Terbakar, Diawali Suara Ledakan

​Ia menjelaskan seluruh otoritas, regulasi, hingga pengawasan operasional Waduk Delingan berada sepenuhnya di bawah Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

”Perlu dipahami bahwa kewenangan penuh itu ada di BBWS, bukan di pemerintah daerah. Kelurahan sifatnya hanya menjadi tempat lokasi waduk ini berada (kenggonan),” bebernya.

”Terkait sistem pengelolaan tanah saat kering, apakah ada sistem bagi hasil dengan warga atau murni dikelola mandiri, kami dari pihak kelurahan tidak masuk ke ranah itu karena itu mutlak kebijakan BBWS,” imbuh Sariman.

Baca Juga: Sumur Mengering, 1.664 Jiwa di Tangen Sragen Krisis Air Bersih

​Sejauh ini, hubungan kerja sama antara pihak pengelola dari BBWS dengan warga sekitar dinilai berjalan harmonis secara alami.

Pola pemanfaatan lahan musiman ini telah menjadi tradisi turun-temurun setiap kali musim kemarau melanda kawasan Karanganyar.

​Bagi masyarakat Delingan, mengeringnya waduk bukanlah sebuah bencana kelangkaan air, melainkan sebuah siklus alam yang selalu dinanti untuk menyambung produktivitas ekonomi di atas tanah dasar danau yang subur. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
Karanganyar Banjir balai besar wilayah sungai bengawan solo delingan Waduk Delingan kemarau