RADARSOLO.COM - Waduk Lalung selama ini dikenal sebagai tempat bersantai, memancing, hingga berolahraga bagi masyarakat Karanganyar. Di balik fungsi tersebut, kawasan ini ternyata menyimpan jejak sejarah yang jauh lebih tua. Di sekitar waduk ditemukan sebuah yoni, peninggalan masa Hindu yang menjadi bukti bahwa wilayah ini kemungkinan pernah menjadi bagian dari peradaban kuno.
Yoni merupakan benda yang digunakan dalam tradisi Hindu sebagai pasangan dari lingga. Bentuknya berupa batu persegi dengan lubang di bagian tengah dan cerat di salah satu sisinya. Dalam ajaran Hindu, yoni melambangkan prinsip feminin, kesuburan, dan sumber kehidupan, sedangkan lingga melambangkan prinsip maskulin. Keduanya menjadi simbol keharmonisan serta proses penciptaan kehidupan.
Lalu, mengapa benda seperti yoni bisa ditemukan di kawasan Waduk Lalung?
Baca Juga: Banyak yang Belum Tahu, Taman Pancasila Karanganyar Dulunya Pasar Tradisional
Sebelum menjadi waduk, kawasan Lalung merupakan permukiman dan lahan pertanian. Waduk ini baru dibangun pada masa Hindia Belanda sekitar tahun 1940 hingga 1942 dengan menenggelamkan perkampungan yang telah ada sebelumnya. Karena itu, para peneliti menduga yoni tersebut sudah berada di kawasan tersebut jauh sebelum waduk dibangun.
Selain itu, lokasi di sekitar aliran sungai sejak dahulu memang menjadi tempat yang ideal untuk permukiman maupun kawasan suci. Ketersediaan air menjadi alasan utama masyarakat pada masa lampau memilih menetap dan membangun berbagai aktivitas di wilayah tersebut. Tak menutup kemungkinan, kawasan Lalung pernah menjadi bagian dari permukiman atau tempat ibadah pada masa Hindu-Buddha.
Baca Juga: Istilah "Jam Karet" Punya Cerita dan Makna yang Menarik
Keberadaan yoni di Lalung pun mendapat perhatian pemerintah. Artefak tersebut telah didata dan kini berstatus sebagai benda cagar budaya di Kabupaten Karanganyar sehingga keberadaannya dapat dilindungi dan dilestarikan.
Penemuan yoni ini menjadi pengingat bahwa Karanganyar tidak hanya kaya akan wisata alam, tetapi juga memiliki warisan sejarah yang masih dapat dijumpai hingga sekarang. Di balik tenangnya Waduk Lalung, tersimpan jejak peradaban yang telah ada berabad-abad lalu dan masih menyisakan cerita untuk terus ditelusuri.
Editor : Kabun Triyatno