RADARSOLO.COM – Pasar jadul di kawasan wisata Sapta Tirta Pablengan, Kecamatan Matesih, Karanganyar kembali bergeliat.
Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar resmi meluncurkan konsep baru bertajuk Pasar Jadul Reborn dengan fokus mengembalikan pasar tersebut ke konsep awal sebagai pusat kuliner tradisional tempo dulu.
Langkah itu diambil setelah pelaksanaan Pasar Jadul sebelumnya sempat mandek. Salah satu penyebabnya, lapak pedagang mulai dipenuhi makanan modern dan jajanan kekinian sehingga identitas pasar tradisional perlahan memudar.
Baca Juga: Dalami Kebakaran Pabrik Sendal di Kebakkramat, Polres Karanganyar Tunggu Hasil Labfor
Kepala Bidang Destinasi Wisata Disparpora Karanganyar Bayu Sahid Nugroho mengatakan, evaluasi dilakukan bersama kelompok sadar wisata (pokdarwis) dan komunitas lokal. Hasilnya, seluruh pihak sepakat mengembalikan pasar ke konsep aslinya.
”Dulu sempat macet karena pedagang di luar konsep jadul bermunculan. Makanannya terkontaminasi tanda kutip. Atas inisiatif pokdarwis dan komunitas, kita kembalikan ke khittah-nya,” ujarnya mewakili Kepala Disparpora Yopy Eko Jatiwibowo, Selasa (21/7/2026).
Pada gelaran perdana konsep anyar tersebut, sebanyak 15 pedagang menjajakan menu-menu lawas yang kini mulai sulit ditemukan di pasar modern. Di antaranya pecel gendar sayur cenil, jenang, bubur tradisional, hingga apem lawas.
Baca Juga: Dua Hari Tenggelam di Bengawan Solo, Jasad Karyawan SPPG di Sragen Akhirnya Ditemukan
Antusiasme warga terlihat sejak pagi. Bahkan sebelum pasar resmi dibuka pukul 07.00 WIB, pengunjung sudah memadati kawasan Sapta Tirta sejak pukul 06.30 WIB usai mengikuti senam sehat bersama.
Suasana pasar dipenuhi warga yang berburu sarapan tradisional sambil menikmati nuansa tempo dulu di kompleks wisata bersejarah tersebut.
Menurut Bayu, tingginya kunjungan pada gelaran perdana menjadi sinyal positif bagi pengembangan Pasar Jadul Reborn sebagai agenda rutin bulanan.
Baca Juga: Terjerat Kasus Narkoba, Kadus di Desa Wonolopo Karanganyar Diberhentikan Sementara
”Respons warga luar biasa. Antusiasme ini membuat kami optimistis menetapkan target gelaran rutin sebulan sekali untuk membangun kerinduan pengunjung atau curiosity branding,” katanya.
Disparpora menilai Pasar Jadul tidak hanya berpotensi menggerakkan ekonomi warga, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk pengembangan wisata sejarah.
Kawasan Matesih memiliki keterkaitan erat dengan Pura Mangkunegaran dan jejak perjuangan Pangeran Sambernyawa atau Raden Mas Said.
Baca Juga: DKPPP Sragen Semprit Penyalur Pupuk Bersubsidi di Gemolong, Temukan Sejumlah Kejanggalan
Karena itu, Disparpora telah menerbitkan surat edaran kepada sekolah-sekolah agar siswa dapat berkunjung ke Sapta Tirta Pablengan untuk kegiatan wisata edukasi sejarah sekaligus mengenal kuliner tradisional Nusantara.
Kemeriahan Pasar Jadul Reborn turut dihadiri Farida Rober Christanto, istri Bupati Karanganyar. Ia datang langsung untuk mengikuti senam bersama dan meninjau lapak para pedagang.
Farida mengapresiasi konsistensi pedagang dan pengelola dalam menjaga resep-resep warisan leluhur di tengah gempuran makanan instan dan tren kuliner modern. Menurutnya, kebangkitan Pasar Jadul memiliki makna lebih besar daripada sekadar aktivitas jual beli.
Baca Juga: Waduk Delingan Karanganyar Mengering: Jadi Lahan Pertanian, Warga Berebut Ikan
”Pasar Jadul Reborn ini bukan hanya soal kuliner, tapi tentang merawat ingatan kolektif dan warisan leluhur. Sajian kuliner tradisional ini memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang tinggi. Kami berharap gelaran ini didukung penuh oleh masyarakat luas agar terus berkelanjutan dan menjadi ikon kebanggaan wisata Bumi Intanpari,” ujarnya.
Dengan konsep yang lebih ketat dan berfokus pada kuliner lawas, Pemkab Karanganyar berharap Pasar Jadul Reborn mampu menjadi magnet wisata baru di lereng Lawu.
Selain menghadirkan pengalaman berburu makanan tempo dulu, pasar ini diharapkan menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus benteng agar resep-resep tradisional tidak hilang tertelan zaman. (rud/adi)
Editor : Adi Pras