Dari Ilmu Titen, Petani Manfaatkan Dasar Waduk Delingan Karanganyar Jadi Sawah Dadakan: Hujan Sekali, Tanaman Bisa Lenyap

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 18:15 WIB
Warga menanam padi di dasar Waduk Delingan Karanganyar yang mengering, Selasa (21/7/2026). (Rudi Hartono/Radar Solo)
Warga menanam padi di dasar Waduk Delingan Karanganyar yang mengering, Selasa (21/7/2026). (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Permukaan air Waduk Delingan di Kecamatan/Kabupaten Karanganyar boleh saja menyusut drastis hingga dasar danau mengering.

Namun bagi para petani setempat, hamparan tanah retak yang meranggas itu justru harapan baru. Ketika air bendungan asat, kehidupan bertani dadakan pun dimulai.

​Salah satunya dialami oleh Wagimin, 40, petani asal Delingan. Sudah menjadi fenomena rutin, setiap kali air waduk surut di musim kemarau panjang, ia dan puluhan warga lainnya berbondong-bondong "merambah" dasar bendungan untuk menanam padi hingga kacang-kacangan.

Baca Juga: Pasar Jadul Sapta Tirta Pablengan Matesih Kembali Bergeliat, Pemkab Karanganyar Masukkan dalam Agenda Wisata Edukasi Sejarah

”Ini bukan usaha tiap tahun, Mas. Hitungannya bisa dua tahun sekali, hanya saat ketigo (musim kemarau) benar-benar panjang dan air waduk kering," tutur Wagimin saat ditemui di tengah ladang dadakannya di dasar waduk, Senin (20/7/2026) sore.

​Tradisi memanfaatkan lahan pasang-surut ini bukan hal baru. Bagi sebagian warga sekitar, menggarap dasar waduk adalah bentuk melanjutkan jejak orang tua mereka.

​Hariman, 36, salah seorang petani muda di kawasan Waduk Delingan, mengaku mengolah petak tanah yang dulu digarap oleh almarhum ayahnya.

Baca Juga: Dua Hari Tenggelam di Bengawan Solo, Jasad Karyawan SPPG di Sragen Akhirnya Ditemukan

”Lahan yang saya garap ini dulunya punya orang tua. Dari saya kecil, kalau air waduk surut, Bapak selalu turun ke sini untuk bercocok tanam. Sekarang saya yang meneruskan,” ujar Hariman sembari membersihkan sisa-sisa gulma di petak garapannya.

​Menurut Hariman, meski status tanah ini berada di area waduk, secara sosial warga sudah saling tahu batas kepemilikan garapan masing-masing berdasarkan riwayat pengolahan keluarga terdahulu.

​Uniknya, meski tanah dasar waduk sempat tenggelam dalam rentang waktu yang lama, tak pernah ada cerita warga berebut petak lahan.

Baca Juga: Dalami Kebakaran Pabrik Sendal di Kebakkramat, Polres Karanganyar Tunggu Hasil Labfor

Pembagian lahan garapan di dasar waduk ini berpegang teguh pada tradisi lokal yang unik: ilmu titen (daya ingat/penandaan berbasis kebiasaan) dan batas-batas lama yang tetap dihormati.

​Batas antar-sawah (galengan) ternyata tidak lenyap begitu saja meski terendam air. Begitu air surut, jejak garis pembatas tersebut kembali terlihat.

”Setiap orang sudah paham mana bagiannya masing-masing. 'Oh, ini lahan saya, sebelah sana punya Pak Eko, sebelah situ milik Pak Wiryo', Walau hanya ditandai sedikit, tidak ada yang berani menyerobot. Kalau sampai ambil jatah tetangga, ya bisa ramai (berselisih),” jelas Wagimin.

Baca Juga: DKPPP Sragen Semprit Penyalur Pupuk Bersubsidi di Gemolong, Temukan Sejumlah Kejanggalan

​Menanam di dasar waduk pada dasarnya adalah perjudian melawan alam. Siklus tanaman seperti padi atau kacang butuh waktu hingga tiga bulan untuk dipanen. Masalahnya, cuaca tidak pernah bisa diprediksi secara pasti.

​Sering kali, saat tanaman kacang sudah subur atau bahkan siap dipetik, hujan deras mendadak turun di kawasan hulu.

Dalam hitungan jam atau semalam, air waduk bisa langsung naik dan menenggelamkan seluruh hasil jerih payah mereka.

Baca Juga: Dalami Kebakaran Pabrik Sendal di Kebakkramat, Polres Karanganyar Tunggu Hasil Labfor

”Ibaratnya ini usaha spekulasi. Kalau panen ya bersyukur, kalau gagal ya sudah, tidak apa-apa,” ungkap Wagimin pasrah.

​Risiko finansialnya pun tidak main-main. Ketika hujan tiba-tiba datang dan menenggelamkan tanaman yang bahkan sudah dibeli oleh penebas (pembeli borongan), petani harus menanggung kerugian itu sendiri tanpa ada ganti rugi.

”Pernah kejadian, kacang tinggal dipanen dan sudah ada pembeli yang menebas. Eh, besok paginya hujan turun deras, air langsung penuh. Ya kalah sama air, modal melayang dan rugi sendiri,” tambah Wagimin. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
karanganyar delingan Waduk Delingan kekeringan padi