Batik Girilayu Matesih Karanganyar Didorong Go International

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 16:31 WIB

 

Galeri Batik Girilayu di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar diresmikan Sabtu (12/9/2026). (Rudi Hartono/Radar Solo)
Galeri Batik Girilayu di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Karanganyar diresmikan Sabtu (12/9/2026). (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Industri kreatif batik di Bumi Intanpari terus bertransformasi. Peresmian Galeri Batik Girilayu di kompleks Astana Giribangun, Kecamatan Matesih, Karanganyar, Sabtu (12/9/2026) menjadi pijakan baru bagi ratusan perajin lokal.

Tidak sekadar mempertahankan warisan leluhur. Warisan budaya ini kini didorong bertransformasi melalui modernisasi alat, digitalisasi pemasaran, hingga regenerasi masif.

Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah menjelaskan, pihaknya mendorong penuh agar karya perajin Girilayu menembus pasar nasional hingga mancanegara.

Baca Juga: Videonya Viral, Pengusaha Sound Horeg Asal Karanganyar Setyo Budi Mularso Minta Maaf ke MUI Jatim

Ia mengapresiasi tongkat estafet regenerasi yang berjalan mulus dengan masuknya Gen Z. Mulai dari pemuda usia 18 tahun hingga lulusan sarjana seni yang turun langsung memproduksi batik.

”Batik Girilayu tidak akan punah. Namun, selain pakem tradisional yang wajib dijaga untuk acara resmi, sentuhan modern dan variasi warna juga sangat diperlukan untuk busana harian,” tegas Siti Fauziah.

​Ia menambahkan, adopsi teknologi seperti penggunaan alat cap modern hingga digitalisasi pemasaran menjadi kunci efisiensi waktu dan menekan biaya produksi agar harga batik lebih terjangkau oleh masyarakat luas.

Baca Juga: Beraksi di Depan Ibu Kandungnya, Pelaku Penikaman Petani di Masaran Sragen Dibekuk Polisi 

​Menanggapi hal itu, Koordinator Paguyuban Batik Girilayu Nyoto Mulyono menegaskan kesiapan 600 perajin yang bernaung di bawah 12 kelompok untuk beradaptasi.

”Paguyuban kini fokus menggarap motif turunan modern guna membidik pasar milenial dan Gen Z, berdampingan dengan batik tulis klasik yang tetap dipertahankan sebagai ikon luhur,” paparnya.

​Soal harga, menurut Nyoto, Batik Girilayu sangat kompetitif. Motif turunan disajikan pada kisaran Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu.

Baca Juga: Sabet Prestasi PON dan Popnas, 18 Atlet Karanganyar Diganjar Reward di Momen Haornas 2026

Sementara itu, batik tulis klasik berpakem keraton dibanderol dari Rp 700 ribu hingga mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan pernah menembus Rp 23 juta per lembar.

​Langkah konkret pelestarian juga merambah sektor pendidikan lewat program life skill dan outing class bersama dinas pendidikan. Upaya panjang ini mulai membuahkan hasil manis.

”Motif khas Girilayu berhak paten, Tridharma, kini tidak hanya dipakai instansi dan pejabat negara, namun bersiap melenggang ke panggung internasional dalam ajang rapat kamar dagang di Taiwan,” pungkasnya. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
Batik Girilayu karanganyar matesih mpr ri batik