RADARSOLO.COM- Mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebab itu, RSUD Wonogiri gencar menyosialisasikan pencegahan beragam penyakit. Salah satunya kanker paru.
Apa itu kanker paru? Kanker paru adalah pertumbuhan sel yang abnormal dan tidak terkendali di dalam jaringan paru akibat adanya kerusakan gen yang berfungsi dalam regulasi proliferasi serta diferensiasi sel.
Kanker paru primer merupakan keganasan pada jaringan yang berasal dari sel-sel yang berada di dalam organ paru, sedangkan kanker paru sekunder adalah kanker yang bermetastasis ke paru-paru dengan kanker primernya berasal dari luar organ paru.
Kanker paru memiliki prevalensi yang tinggi dan merupakan salah satu penyebab utama kematian terkait kanker di seluruh dunia. Insiden kanker paru ditemukan lebih banyak pada laki-laki dibandingkan perempuan, dengan lifetime risk 1:15 pada laki-laki dan 1:17 pada Perempuan.
World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian terbanyak akibat kanker pada tahun 2020 dengan total 1,80 juta kematian. Cancer World Bank menetapkan kanker paru sebagai kanker dengan angka mortalitas tertinggi di dunia.
Data dari Globocan menunjukkan insiden kanker paru pada 2020 di Indonesia adalah sebanyak 34.783 kasus baru atau setara 8,8 persen dari keseluruhan kasus kanker.
Kasus terbanyak ditemukan pada pria. Data tersebut menunjukkan bahwa karsinoma paru termasuk dalam 3 besar jenis karsinoma terbanyak di Indonesia, setelah kanker payudara dan kanker serviks.
Faktor perkembangan kanker paru belum diketahui secara pasti. Tetapi faktor lingkungan, genetik, serta agen infeksi diduga berkaitan dengan berkembangnya penyakit ini.
Beberapa studi melaporkan adanya asosiasi kausal kebiasaan merokok dengan insiden kanker paru. Rokok berperan sebagai inisiator, promotor, serta progresor terjadinya kanker paru. Namun, hingga saat ini belum terdapat penyebab tunggal kanker paru yang telah diidentifikasi.
Kebiasaan Merokok
• Perkembangan kanker paru berhubungan langsung dengan banyaknya jumlah rokok yang diisap, lama riwayat merokok, serta kandungan tar dan nikotin dalam rokok.
Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumsi rokok terus-menerus (perokok aktif) memiliki risiko 16 kali lipat untuk menderita kanker paru. Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa perokok pasif juga memiliki risiko untuk menderita kanker paru, dimana sekitar 25 persen penderita kanker paru dari non-perokok berasal dari perokok pasif.
Faktor Genetik
• Berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik berperan penting dalam menentukan risiko kanker paru. Mutasi atau perubahan pada gen protoonkogen, onkogen (seperti onkogen ras).
Faktor Risiko
• Individu tertentu memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami kanker paru, antara lain: Usia di atas 40 tahun, riwayat merokok 30 tahun atau lebih, berhenti merokok dalam 15 tahun sebelum pemeriksaan.
Pasien usia di atas 50 tahun, riwayat merokok 20 tahun atau lebih, serta adanya minimal satu faktor risiko lainnya. Pajanan asap rokok (perokok pasif), paparan lingkungan dengan polusi udara yang buruk, pajanan radiasi pengion.
Berikutnya, riwayat paparan radiasi pada regio toraks, riwayat kanker pada penderita, atau sedang menderita kanker payudara, kanker prostat, neuroblastoma, sarkoma, dan tumor Wilms. Kanker tersebut merupakan kanker primer yang bermetastasis ke paru.
Baca Juga: Begini Cara Mengelola Stres ala Psikolog RSUD Wonogiri agar nggak Gampang Mletre
Riwayat penyakit paru seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau fibrosis paru, terinfeksi virus HIV, riwayat penyakit kanker pada keluarga (genetic susceptibility), rendahnya konsumsi betakarotene, selenium, dan vitamin A.
Adapun tanda-tanda seseorang mengidap kanker paru yakni, pada fase awal, sebagian besar kasus kanker paru tidak menunjukkan gejala klinis, sehingga diagnosis sering kali ditegakkan pada saat pasien sudah dalam stadium lanjut.
Gejala klinis yang dapat dijumpai pada kanker paru adalah batuk menetap lebih dari 2 minggu tanpa respons terhadap terapi farmakologi, batuk berdarah, sesak napas, nyeri dada, serta gejala sistemik seperti penurunan berat badan dan demam.
Gejala lokal terdiri dari batuk baru atau kronis, hemoptisis, dan mengi. Gejala invasi lokal antara lain nyeri dada, dispnedia (akibat efusi pleura), tamponade atau aritmia (invasi ke pericardium), paralisi diafragma.
Berikutnya gejala sistemik, yakni penurunan berat badan, anoreksia, demam. Gejala yang berkaitan dengan metastasis, yaitu sakit kepalam parese, nyeri tulang, limfadenopati servikal, serta supraklavikula.
Beberapa sindrom yang dapat dijumpai pada gambaran klinis kanker paru: sindrom paraneoplastic, sindrom homer, dan Pancoast.
Penatalaksanaan pilihan pada kanker paru adalah tindakan operatif yang dikombinasi dengan terapi lainnya. seperti radioterapi dan kemoterapi, sebagai ajuvan yang juga memiliki peran paliatif dan sitoreduksi.
Penatalaksanaan kanker paru disesuaikan dengan jenis kanker paru utama yaitu non-small cell lung cancer (NSCLC) atau small cell lung cancer (SCLC).
Tindakan Operatif
- Tindakan operatif merupakan pilihan utama pada kanker paru NSCLC stadium I atau II, terutama pada pasien dengan sisa cadangan parenkim paru yang adekuat.
- Tindakan operatif umumnya dilakukan dengan reseksi paru setelah kemoterapi neoadjuvan. Pasien kanker paru dengan stadium IIIb dan IV tidak direkomendasikan untuk menjalani terapi operatif, namun diberikan combined modality therapy yaitu dengan terapi gabungan radiasi dan kemoterapi.
Radioterapi
- Radioterapi biasanya diberikan pada kasus yang inoperable dengan tujuan pengobatan kuratif. Radioterapi juga dapat berperan sebagai terapi ajuvan ataupun paliatif pada kanker paru yang berlokasi di bronkus yang dapat memberikan penekanan di daerah vaskular.
- Radioterapi dengan tujuan kuratif dapat diberikan dengan dosis paruh dan terbukti berhasil memperpanjang kesintasan sampai 20 persen terutama pada pasien usia lanjut yang menderita kanker paru stadium I, maupun pada pasien dengan komorbid yang menyulitkan untuk dilakukan operasi, atau pasien yang menolak dioperasi.
Kemoterapi
- Prinsip pemberian kemoterapi adalah pemberian sitostatika akan sangat efektif pada sel yang bermitosis dengan fase proliferatif yang tinggi.
- Dosis obat sitostatika pada kemoterapi harus diberikan secara optimal dan sesuai dengan jadwal pemberian yang telah disesuaikan, kecuali jika pemberian sitostatika akan lebih membahayakan jiwa seperti pada pasien kanker paru dengan keadaan umum yang memburuk.
Terapi Suportif
- Terapi suportif pada kanker paru diperlukan bagi pasien dengan komplikasi kritis seperti insufisiensi respirasi yang dapat menyebabkan gagal napas dan adanya gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan syok kardiogenik maupun henti jantung.
Terapi Rehabilitasi
• Penanganan maupun penyakit kanker paru dapat menimbulkan gangguan fungsi. Gangguan yang terjadi dapat berupa gangguan fisiologis dan gangguan psikologis yang berpotensi menyebabkan terjadinya keterbatasan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (disabilitas).
• Konsultasi dengan dokter spesialis rehabilitasi medik, dokter spesialis kejiwaan, maupun psikolog sangat direkomendasikan untuk memberikan dukungan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. (kwl/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono