RADARSOLO.COM - Istilah "jam koma" tengah menjadi viral di berbagai platform media sosial. Banyak yang kemudian penasaran dan bertanya-tanya tentang makna sebenarnya dari istilah tersebut.
Meski terkesan misterius, penggunaan "jam koma" dalam konteks percakapan online merujuk pada fenomena saat seseorang berada dalam kondisi sleep paralysis.
Atau yang dikenal dalam istilah medis sebagai kelumpuhan tidur.
Dalam kondisi ini, seseorang berada di antara fase tidur dan terjaga, namun tidak bisa bergerak atau berbicara, seolah-olah terjebak dalam "koma" singkat.
Makna "Jam Koma" yang Lebih Luas
Namun, istilah "jam koma" ini juga bisa diartikan lebih luas di luar konteks medis.
Beberapa pengguna media sosial mengaitkan istilah ini dengan situasi di mana seseorang merasa kehilangan fokus, kesadaran, atau produktivitas dalam jangka waktu tertentu.
Kondisi ini seperti tengah berada dalam "koma" sementara.
Misalnya, ada yang menggambarkan jam-jam saat sore atau pagi hari sebagai "jam koma," di mana energi menurun drastis dan seseorang cenderung merasa lelah, tidak produktif, atau kebingungan.
Fenomena Viral di Media Sosial
Salah satu faktor yang membuat istilah ini menjadi viral adalah banyaknya pengguna TikTok dan X yang membagikan pengalaman pribadi mereka saat mengalami kondisi "jam koma."
Kondisi dan istilah itu muncul dari pengalaman anak-anak muda, terutama mahasiswa dan pekerja muda yang merasakan kesibukan berlebih dan tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyaknya tugas, pekerjaan, dan kegiatan sosial menyebabkan mereka merasa lelah, baik secara fisik maupun mental. Sehingga berdampak pula pada kesehtan mental mereka.
Beberapa di antaranya membagikan cerita saat merasa terjebak antara tidur dan terjaga, atau merasa kehilangan waktu tanpa menyadari apa yang terjadi selama beberapa jam.
Akun TikTok Oslo Ibrahim juga mengungkapkan, "jam koma" terjadi saat otak sudah terlalu lelah, sehingga seseorang cenderung melakukan hal-hal yang tanpa disadari.
Misalnya, pandangan kosong, melamun, typo saat mengetik atau berbicara, tidak nyambung, dan lainnya. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria