RADARSOLO.COM- Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada anak patut diwaspadai.
Sebab, itu bisa menjadi salah satu faktor risiko stunting pada anak.
dr. Dwi Sariningsih, M.Kes, Sp. A mengatakan, dalam banyak kasus ISK pada anak disebabkan adanya gangguan bakteri.
Adapun ISK dibagi menjadi dua berdasarkan titik infeksi:
- Pielonefritis: infeksi menyerang ginjal.
- Sistitis: infeksi terjadi di kandung kemih.
Lalu juga dibagi lagi menjadi dua: yang simpleks (sederhana) dan kompleks.
"Simpleks itu karena infeksi. Kalau kompleks, ada kelainan di saluran kencing dari ginjal sampai bawah," ujarnya.
Dokter yang berdinas di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri itu menuturkan, anak di usia berapapun dari 0-18 tahun bisa terkena ISK.
Adapun ada beberapa faktor penyebab ISK pada anak antara lain:
- Penggunaan popok sekali pakai: Kencing anak tertahan di popok dalam jangka waktu lama. Padahal pada urine juga ada kandungan bakterinya.
- Kebiasaan untuk menahan kencing pada anak.
- Kurang minum.
- Kelainan organ.
"Gejala ISK pada anak biasanya demam bisa juga muntah tanpa diare. Memastikannya lewat pemeriksaan, seperti pemeriksaan urine. Bisa ketahuan itu nanti," terang Sari.
ISK bisa menjadi salah satu faktor risiko anak menjadi stunting.
Saat anak kambuh mengalami ISK, maka tubuhnya perlu asupan energi meningkat.
"Infeksi yang berulang, tidak cuma ISK, bisa juga TBC, diare itu tubuh perlu asupan energi meningkat. Tapi saat sakit nafsu makan anak turun," beber dia.
Baca Juga: Tips Ampuh Usir Nyamuk Secara Alami, Tanpa Bahan Kimia
Sarankan Toilet Training Sejak Anak Usia 1 Tahun
Yang bisa dilakukan orang tua agar anak tak menderita ISK adalah melakukan toilet training.
Itu bisa dilakukan sejak anak berusia satu tahun. Yakni melatih agar anak memiliki sinyal untuk buang air kecil.
"Setiap tiga sampai empat jam, anak istilahnya ditatur. Dengan pola itu, anak akan bilang saat merasa ingin kencing. Kalau bayi belum bisa ngomong, menunjukkan gelagat-gelagat tertentu," ungkap Sari.
Selain itu, penggunaan popok kain disarankan untuk toilet training.
Sebab, saat bayi merasa popoknya basah akan merasa risih. Berbeda dengan penggunaan ppopok yang menyerap kencing anak.
Hal lainnya adalah membiasakan anak banyak minum air bersih.
Anak juga harus dilatih untuk membersihkan usai kencing.
Untuk anak perempuan, dilatih agar membasuh (cebok) dari arah depan ke belakang.
Lebih jauh, penanganan anak yang mengalami ISK bisa dilakukan RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
Sebab, alat untuk pemeriksaan penunjang juga tersedia.
Selain pengujian urine, jika dibutuhkan terdapat USG dan CT scan untuk mengetahui apakah yang menjadi penyebab anak mengalami ISK. (al)
Editor : Tri wahyu Cahyono