RADARSOLO.COM — Ancaman diabetes di Indonesia kembali menjadi sorotan serius. Data kesehatan nasional mencatat 1 dari 10 warga Indonesia hidup dengan diabetes, sementara 1 dari 5 sudah berstatus obesitas.
Tingginya angka obesitas yang menjadi pintu gerbang menuju diabetes kini memicu kekhawatiran banyak pihak.
Hal itu ditegaskan Pengurus Besar (PB) Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Heri Nugroho pada peringatan Hari Diabetes Sedunia di De Tjolomadoe, Minggu (30/11) pagi.
Menurutnya, pola hidup masyarakat yang semakin modern justru menjadi penyebab utama memburuknya kondisi kesehatan bangsa.
“Diabetes terus meningkat dari tahun ke tahun. Semuanya berawal dari gaya hidup tidak sehat dan obesitas. Ini situasi serius bagi kesehatan bangsa,” ujar Heri.
Heri menjelaskan, penumpukan lemak berbahaya terutama terjadi di area perut.
Lingkar perut lebih dari 90 cm untuk laki-laki dan 80 cm untuk perempuan menjadi indikator obesitas sentral. Bahkan yang lebih mengkhawatirkan, usia penderita diabetes kini semakin muda.
Remaja, mahasiswa, hingga anak-anak mulai masuk kelompok risiko akibat tren kuliner, kurang olahraga, dan konsumsi makanan berlebih yang semakin mudah diakses.
Menurut Heri, mengendalikan obesitas merupakan kunci utama mengurangi prevalensi diabetes sekaligus menekan beban negara terhadap pembiayaan kesehatan.
“Diabetes itu ibunya penyakit. Dampaknya melebar ke komplikasi jantung, stroke, hingga penyakit ginjal. Kalau obesitas turun, angka diabetes ikut turun, beban pembiayaan kesehatan juga berkurang,” terangnya.
Heri menambahkan, keterlibatan keluarga memiliki peran besar dalam gerakan hidup sehat. Kebiasaan sehat yang dimulai dari rumah dinilai mampu mendorong perubahan kolektif.
“Kalau ibu-ibu di rumah berkomitmen hidup sehat, maka seluruh anggota keluarga ikut berubah.”
Dalam kesempatan yang sama, People & Organisation Director Novo Nordisk Indonesia, Adhika Widya Sena, menyebut diabetes tidak hanya dapat ditekan melalui pengobatan, tetapi terutama lewat perubahan perilaku masyarakat.
“Banyak orang diabetes tidak merasa dirinya sakit. Edukasi jauh lebih penting daripada sekadar penanganan,” tuturnya.
Baca Juga: Keris hingga Naskah Kuno Dipamerkan di Museum Radya Pustaka
Menurut Adhika, tantangan terbesar adalah minimnya kesadaran masyarakat untuk memeriksa kondisi tubuh sendiri.
“Obesitas terlihat, diabetes tidak selalu terlihat. Karena itu kita harus mulai dari kesadaran diri — cek berat badan, cek BMI, cek gula darah kalau punya risiko. Perubahan dimulai dari situ,” jelasnya.
Untuk mendukung edukasi tersebut, Novo Nordisk memperkenalkan platform digital yang memungkinkan masyarakat menghitung BMI, mempelajari risiko diabetes, hingga mengakses tenaga kesehatan secara online dan offline.
“Cukup satu klik di novacare.id, masyarakat sudah bisa tahu kondisi tubuh dan mendapatkan dukungan sebelum terlambat,” ungkapnya.
Baca Juga: Perempuan Jatuh di Neo Solo Grand Mall Diduga Lompat dari Lantai 4, Lokasi Diamankan Polisi
Adhika menegaskan, fokus perusahaan kini juga merambah ke isu obesitas karena keterkaitannya dengan diabetes sangat Polis
“Mencegah obesitas berarti menyelamatkan generasi mendatang dari risiko diabetes,” ujarnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy