Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Naik Kelas ke Fitofarmaka, Riset Profesor Toksikologi Buktikan Kekuatan Antioksidan Temu Giring dan Jahe Merah

Kabun Triyatno • Senin, 16 Februari 2026 | 14:36 WIB

Ilustrasi jahe merah
Ilustrasi jahe merah

RADARSOLO.COM – Di tengah pesatnya modernisasi dunia farmasi, potensi tanaman lokal Indonesia kembali mendapatkan pengakuan ilmiah sebagai kunci kemandirian obat nasional. Guru Besar Bidang Ilmu Toksikologi Universitas Airlangga (Unair) Prof. Sugiharto membuktikan bahwa tanaman tradisional seperti temu giring, temu kunci, hingga sambung nyawa memiliki efikasi tinggi dalam melawan kerusakan sel akibat paparan logam berat.

Gagasan tersebut dipaparkan Prof. Sugiharto dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Kampus MERR-C UNAIR, Kamis (12/2). Berdasarkan risetnya, senyawa aktif dalam tanaman lokal terbukti mampu menstimulasi peningkatan enzim antioksidan endogen, sekaligus memiliki potensi besar sebagai agen anti-kanker dan anti-bakteri.

Baca Juga: Hipnoterapi bagi Kesehatan Tubuh, Membantu Mengelola Stres dan Gangguan Psikosomatis

"Penelitian kami membuktikan ekstrak tanaman lokal mengandung senyawa fenolik, flavonoid, dan curcuminoid yang mampu menstimulasi enzim antioksidan serta mengurangi kerusakan sel hepar pada subjek yang mengalami stres oksidatif akibat paparan timbal (Pb) dan kadmium (Cd)," jelas Prof. Sugiharto.

Ia menekankan pentingnya langkah "Saintifikasi Jamu" agar ramuan tradisional Indonesia tidak sekadar menjadi warisan budaya, tetapi naik kelas secara medis. Meskipun jamu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda UNESCO sejak 2023, Prof. Sugiharto mengingatkan bahwa statusnya masih berada di level terbawah klasifikasi Obat Bahan Alam (OBA) versi BPOM.

Baca Juga: Virus Nipah Terdeteksi pada Kelelawar di Indonesia, Pakar Epidemiologi Ingatkan Fatalitas Tinggi, Hindari Konsumsi Buah Codotan

Melalui proses saintifikasi yang mencakup uji in vitro, in vivo, hingga uji klinis, jamu berpeluang besar ditingkatkan statusnya menjadi Obat Herbal Terstandar (OHT) atau Fitofarmaka. Langkah ini dinilai strategis mengingat pangsa pasar global obat herbal organik diproyeksikan mencapai USD 24,5 miliar pada tahun 2030.

Namun, Prof. Sugiharto juga menyoroti tantangan sistemik dari hulu ke hilir, mulai dari ancaman deforestasi terhadap habitat tanaman obat hingga tingginya biaya standardisasi ekstrak di laboratorium. Sebagai solusi, ia mendorong sinergi holistik antara akademisi, petani, industri farmasi, dan pemerintah untuk mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia yang masih tersimpan rapat.

Baca Juga: RS Indriati Solo Baru Hadirkan Layanan PET Scan, Deteksi Dini Kanker hingga Sel Terkecil

"Alam Indonesia adalah laboratorium raksasa yang belum kita baca sepenuhnya. Eksplorasi tanaman lokal di masa depan akan menjadi kunci bagi penyembuhan penyakit kronis sekaligus tulang punggung kemandirian obat nasional," ujarnya. (*)

Editor : Kabun Triyatno