Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Gen Z Rentan Stres dan Kecemasan, RS Dr OEN Kandang Sapi Solo Gelar Seminar Kesehatan Mental

Antonius Christian • Sabtu, 16 Mei 2026 | 12:40 WIB
RS Dr OEN Kandang Sapi Solo gelar seminar tentang kesehatan mental, Sabtu (16/5/2026). (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)
RS Dr OEN Kandang Sapi Solo gelar seminar tentang kesehatan mental, Sabtu (16/5/2026). (ANTONIUS CHRISTIAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM — Tingginya angka generasi muda yang stres, kecemasan hingga gangguan kesehatan mental mendorong Rumah Sakit Dr OEN Kandang Sapi Solo menggelar seminar bertajuk Gen Z Arise: Strong Mind, Healthy Relationship. 

Seminar berlangsung di Mini Ballroom Lantai 2 RS Dr OEN Kandang Sapi Solo, Sabtu (16/5). Acara ini diikuti ratusan peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.

Acara berlangsung meriah dengan konsep santai dan interaktif.

 Peserta tampak antusias mengikuti seminar sejak pagi hari. Selain menghadirkan materi seputar kesehatan mental, seminar juga membahas relasi sehat di kalangan anak muda yang kini menjadi perhatian serius.

Direktur Utama RS Dr OEN Kandang Sapi Solo, dr. Andi Wibawanto mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian rumah sakit terhadap kondisi kesehatan mental generasi muda yang saat ini dinilai semakin rentan mengalami tekanan psikologis.

Menurutnya, hal tersebut menunjukkan isu kesehatan mental kini mulai menjadi perhatian generasi muda.

“Puji syukur hari ini kita bisa mengadakan acara ini dengan sangat luar biasa. Saya tidak membayangkan teman-teman yang datang sebanyak ini dan antusias mengikuti kegiatan dari pagi. Ini menunjukkan bahwa isu kesehatan mental memang sangat dekat dengan kehidupan generasi sekarang,” ujarnya.

Dia menjelaskan seminar tersebut sebenarnya telah dirancang sejak beberapa bulan lalu sebagai bagian dari peringatan Hari Kartini. Namun karena adanya sejumlah penyesuaian jadwal, kegiatan akhirnya baru bisa dilaksanakan pada Mei.

“Acara ini memang sudah digagas sejak beberapa bulan lalu. Awalnya kami siapkan untuk memperingati Hari Kartini, tetapi karena satu dan lain hal akhirnya baru terlaksana sekarang. Namun tentu tidak mengurangi semangat dan keseruannya,” katanya.

Menurut Andi, tema kesehatan mental dipilih karena berdasarkan berbagai survei, Gen Z menjadi kelompok yang paling banyak mengalami tekanan mental dan kecemasan dibanding generasi sebelumnya.

Meski demikian, generasi ini juga dinilai paling sadar akan pentingnya kesehatan mental.

“Survei membuktikan Gen Z adalah generasi yang paling banyak mengalami tekanan, baik secara mental maupun tekanan kehidupan lainnya. Tingkat kecemasan mereka tinggi sekali. Tetapi hebatnya, generasi ini juga paling aware soal kesehatan mental,” ungkapnya.

Dia menilai kondisi sosial dan ekonomi saat ini turut memperbesar tekanan psikologis masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, ketidakpastian kondisi ekonomi hingga tekanan dalam hubungan sosial menjadi faktor yang memicu kecemasan di kalangan anak muda.

“Kondisi sekarang serba tidak menentu. Harga kebutuhan meningkat, tekanan hidup bertambah, dan itu bisa memunculkan kecemasan baru. Belum lagi kalau menghadapi hubungan yang toxic atau lingkungan yang tidak sehat,” jelasnya.

Karena itu, Andi berharap seminar tersebut dapat menjadi ruang edukasi sekaligus tempat berbagi pengalaman bagi generasi muda agar lebih memahami pentingnya menjaga kesehatan mental.

“Silakan manfaatkan acara ini sebaik mungkin untuk memperkuat mental kita dan memahami bagaimana hubungan yang sehat itu. Karena semua itu akan memengaruhi masa depan kita,” katanya.

Dalam seminar tersebut, RS Dr OEN Kandang Sapi Solo menghadirkan dua narasumber, salah satunya Dr. dr. Gst. Ayu Maharatih, SpKJ, Sub.Sp.A.R(K), M(Kes), dokter spesialis kedokteran jiwa subspesialis anak dan remaja RS Dr OEN Kandang Sapi Solo

Berbincang dengan koran ini, Ayu menyoroti meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak muda sejak pandemi Covid-19. Menurutnya, pandemi menjadi titik awal perubahan besar dalam pola kehidupan masyarakat, terutama pada remaja.

“Fenomena ini mulai meningkat sejak Covid-19. Tidak hanya karena infeksi virusnya, tetapi situasi pandemi sangat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat,” ujarnya disela-sela acara .

Dia menjelaskan pembelajaran jarak jauh selama pandemi membuat penggunaan gadget dan media digital meningkat drastis. Kondisi tersebut berdampak pada kemampuan sosial dan emosional generasi muda.

 “Anak-anak dan remaja terlalu lama berinteraksi lewat dunia digital. Akibatnya kecerdasan emosional dan sosial ikut terganggu,” katanya.

Menurut Ayu, dampak penggunaan media digital secara berlebihan mulai terlihat nyata sejak 2023. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencatat sekitar 10 persen penduduk dunia mengalami gangguan mental, mulai dari tingkat ringan hingga berat.

“Gangguan mental itu bukan hanya gangguan jiwa berat. Ada kecemasan, depresi, gangguan mood, bahkan kemampuan intelektual juga bisa ikut terganggu,” ujarnya.

Dia juga menyoroti fenomena “generasi strawberry”, yakni generasi yang terlihat kuat dari luar tetapi sebenarnya rapuh secara mental.

Menurutnya, pola hidup serba instan dan digital membuat banyak anak muda kesulitan menghadapi tekanan kehidupan nyata.

“Semua serba mudah dan cepat. Tetapi ketika menghadapi tekanan, banyak yang akhirnya mudah rapuh,” jelasnya.

Tak hanya memicu gangguan emosional, penggunaan media digital berlebihan juga disebut dapat menyebabkan kecanduan yang memengaruhi fungsi otak.

 “Dampaknya bisa seperti kecanduan narkoba. Bagian otak yang berfungsi untuk berpikir, mengatur emosi, dan mengambil keputusan bisa terganggu,” paparnya.

Ayu mengatakan ancaman kesehatan mental saat ini menjadi tantangan serius bagi generasi muda. Karena itu, kesadaran untuk mengenali tanda-tanda stres dan gangguan mental perlu ditingkatkan sejak dini.

“Yang paling penting adalah awareness. Semua orang sebenarnya punya potensi mengalami gangguan mental, sehingga harus bisa mengenali kapan dirinya membutuhkan bantuan,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, Ayu menyarankan agar penggunaan media sosial dan gadget dibatasi.

Dia mengingatkan anak usia di bawah 16 tahun sebaiknya tidak terlalu banyak terpapar media sosial.

“Penggunaan media sosial harus dibatasi. Bahkan untuk remaja pun idealnya tidak berlebihan. Karena kalau terlalu lama, dampaknya sangat besar terhadap perkembangan mental dan emosional,” tandasnya. (atn/nik)

Editor : Niko auglandy
#rs dr moewardi #kesehatan mental #stres #Kecemasan