RADARSOLO.COM - Krisis kekurangan tenaga perawat dunia diperkirakan masih menjadi ancaman serius hingga 2030.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi, dunia masih akan kekurangan sekitar 4,5 juta perawat dalam beberapa tahun mendatang.
Situasi tersebut dinilai menjadi alarm bagi Indonesia untuk segera memperkuat kualitas, distribusi, dan daya saing tenaga keperawatan nasional, bukan sekadar menambah jumlah lulusan.
Pakar ilmu keperawatan jiwa Arum Pratiwi mengatakan, Indonesia sebenarnya memiliki modal besar karena jumlah institusi pendidikan keperawatan cukup banyak dan minat generasi muda terhadap profesi perawat masih tinggi.
Baca Juga: Perayaan HUT ke-9, Pembukaan JCI x Indriati Health Fest 2026 Diramaikan 350 Peserta
Namun, menurutnya, persoalan utama saat ini bukan pada jumlah lulusan, melainkan ketimpangan distribusi tenaga kesehatan dan kualitas kompetensi yang belum merata.
“Indonesia bisa menghadapi paradoks. Lulusan perawat banyak, tetapi kebutuhan layanan kesehatan berkualitas belum sepenuhnya terpenuhi karena persoalannya ada pada distribusi, kompetensi, dan keberlanjutan profesi,” ujar dosen Fakultas Ilmu Kesehatan UMS ini.
Arum menilai, hingga kini masih terjadi kesenjangan jumlah tenaga perawat antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.
Baca Juga: Gen Z Rentan Stres dan Kecemasan, RS Dr OEN Kandang Sapi Solo Gelar Seminar Kesehatan Mental
Di sisi lain, banyak perawat belum dapat bekerja optimal karena terbatasnya jenjang karir serta persoalan kesejahteraan profesi.
Di tengah transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi, peran perawat juga diprediksi berubah signifikan.
Pemanfaatan artificial intelligence (AI), telemedicine, digital health, hingga electronic medical records disebut akan menjadi bagian penting sistem kesehatan masa depan.
Meski demikian, Arum menegaskan teknologi tidak akan mampu menggantikan sisi kemanusiaan seorang perawat.
“AI bisa membantu membaca data kesehatan, tetapi tidak bisa menggantikan ketulusan perawat saat mendampingi pasien atau keluarga dalam situasi sulit. Teknologi harus tetap diarahkan untuk memuliakan manusia,” jelasnya.
Menurutnya, perawat masa depan dituntut tidak hanya unggul dalam kemampuan klinis, tetapi juga adaptif terhadap perubahan global.
Kompetensi yang harus diperkuat meliputi literasi digital, berpikir kritis, komunikasi interpersonal, kolaborasi interprofesional, sensitivitas budaya, hingga kecerdasan spiritual dan etika profesi.
Baca Juga: Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat saat Cuaca Panas
Dalam perspektif Muhammadiyah, kata Arum, ilmu pengetahuan dan akhlak merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Karena itu, UMS mengembangkan pendidikan keperawatan berbasis integrasi ilmu, teknologi, dan nilai kemanusiaan.
Mahasiswa tidak hanya dibekali keterampilan klinik, tetapi juga penguatan riset, teknologi kesehatan, evidence-based nursing, komunikasi profesional, serta kepedulian sosial.
“Kami ingin lulusan UMS menjadi tenaga kesehatan yang profesional sekaligus humanis,” tuturnya.
Arum juga mengingatkan penguatan profesi perawat harus menjadi perhatian serius pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. Jika diabaikan, dampaknya dapat mengganggu ketahanan sistem kesehatan nasional.
Mulai dari meningkatnya beban kerja tenaga kesehatan, burnout, hingga menurunnya kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Dia menilai pandemi Covid-19 menjadi bukti nyata bahwa perawat merupakan garda terdepan pelayanan kesehatan yang mendampingi pasien selama 24 jam.
Karena itu, investasi terhadap profesi perawat disebut sama pentingnya dengan investasi terhadap masa depan kesehatan bangsa.
“Ketahanan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan teknologi atau fasilitas rumah sakit, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Memuliakan profesi perawat berarti memuliakan upaya menjaga kehidupan masyarakat,” ujarnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susanto