RADARSOLO.COM-Keluhan badan pegal, linu, hingga persendian terasa kaku sering kali dialami oleh masyarakat yang memasuki lanjut usia (lansia).
Keluhan tersebut biasanya semakin meningkat pasca-momen hari besar keagamaan, seperti Idul Adha, menjadikan konsumsi daging potong cenderung melonjak.
Dokter IGD RSUD Bagas Waras Klaten dr. Aisha Putri M mengungkapkan bahwa keluhan pusing, kaku pada bahu, lutut, hingga telapak kaki pasca-menyantap hidangan daging sebenarnya berakar dari pola hidup dan asupan makanan yang kurang terkontrol.
Baca Juga: Angka Imunisasi Di Solo Versi Pusdatin Tinggi, Tapi Data Provinsi Malah Terendah
"Setelah dilakukan anamnesis, biasanya pemicunya kalau bukan karena kurang tidur, ya karena faktor makanan. Habis makan daging banyak, langsung rasanya pusing," ujar dr. Aisha saat ditemui usai melakukan pemeriksaan kesehatan kepada warga Pesu, Kecamatan Wedi pada acara Sambung Rasa, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, gejala awal seperti itu sebenarnya bisa diatasi secara mandiri dengan membenahi gaya hidup terlebih dahulu. sebelum buru-buru beralih ke obat-obatan.
Aisha menjelaskan, rasa kaku dan pegal pada area sendi utama seperti bahu, lutut dan telapak kaki pada dasarnya merupakan hal yang lumrah.
Seiring penurunan fungsi sistem tubuh pada seorang lansia. Namun, kondisi tersebut tidak selalu merujuk pada penyakit degeneratif yang parah.
“Sistem metabolisme lansia tidak lagi seprima usia 30 tahun atau 40 tahun. Oleh karena itu, kontrol asupan pasca-konsumsi daging kurban menjadi kunci utama agar metabolisme tidak melonjak drastis. Dikarenakan juga bisa memicu naiknya tekanan darah (tensi) dan asam urat,” ujarnya.
Untuk porsi makan, Aisha menyebut tidak ada takaran kaku yang membedakan lansia dengan usia dewasa normal.
Baca Juga: Jaga Keseimbangan Tubuh Usai Konsumsi Daging Berlebih: Kenali Batasan Porsi dan Menu Penyeimbang
Lansia tetap disarankan makan tiga kali sehari dengan diselingi dua kali camilan.
Namun, yang wajib dipangkas habis adalah penggunaan bumbu tambahan yang berpotensi menjadi musuh bagi tubuh.
Seperti mengurangi garam karena bisa menjadi pemicu utama melonjakanya tekanan darah (hipertensi).
Termasuk batasi konsumsi makanan yang mengandung santan dan gorengan karena bisa mempercepat kenaikan asam urat dan kolestrol.
“Kurangi manis berlebih. Termasuk kebiasaaan minum es teh manis yang terlalu sering,” tambah Aisha.
Di sisi lain, rekomendasi camilan sehat dengan mengonsumsi yang berbasis umbi-umbian rebus maupun kentang yang minim proses penggorengan.
Baca Juga: Perayaan HUT ke-9, Pembukaan JCI x Indriati Health Fest 2026 Diramaikan 350 Peserta
Selain makanan, aktivitas fisik atau olahraga ringan sangat penting untuk menjaga agar sendi-sendi lansia tidak kaku.
Seperti jalan pagi hingga senam lansia dengan durasi cukup 15 menit sehari. Hal itu bisa dilakukan tiga hingga empat kali dalam seminggu.
“Saat melakukan jalan pagi atau olahraga lainnya wajib menggunakan alas kaki. Hal ini untuk menghindari Risiko luka, terpeleset atau cedera keseleo,” tambahnya.
Untuk menjaga kondisi tetap stabil, lansia diimbau memanfaatkan fasilitas kesehatan secara berjenjang sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Seperti ke Posyandu Lansia yang bisa diikuti sebulan sekali untuk pemantauan dasar oleh perawat, bidan maupun dokter.
Jika memiliki riwayat gula darah dan kolesteral yang tinggi, bisa melakukan cek secara berkala sesuai anjuran.
Tapi apabila kondisinya sudah normal tanpa keluhan, pengecekan cukup dilakukan tiga hingga enam bulan sekali.
Sebagai dokter yang sehari-hari bertugas di unit gawat darurat, Aisha mengingatkan keluarga atau lansia itu sendiri untuk tidak menunda ke rumah sakit jika menemui gejala klinis.
Baca Juga: Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat saat Cuaca Panas
Seperti tensi dan gula darah tinggi yang tidak terkontrol atau putus obat. Termasuk ketika mengalami nyeri perut hebat yang menjalar ke punggung, sesak napas dan nyeri dada di sebelah kiri.
“Jika tidak diwaspadai maka bisa berisiko pada stroke. Sedangkan keluhan nyeri dada kiri yang tembus ke belakang atau sesak napas akut adalah tanda bahaya pada lansia. Itu harus segera dibawa ke IGD agar mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat," pungkasnya.(ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono