RADARSOLO.COM – Setelah makan, godaan untuk langsung duduk santai atau rebahan memang sulit ditolak. Apalagi kalau perut sudah kenyang, kasur terasa semakin nyaman dan tontonan yang belum selesai masih menunggu.
Namun, ada kebiasaan sederhana yang bisa dicoba setelah makan, yakni berjalan kaki selama sekitar 10 menit. Tidak perlu olahraga berat atau berjalan dengan kecepatan tinggi. Jalan santai di sekitar rumah, kos, atau lingkungan tempat tinggal pun sudah bisa menjadi aktivitas ringan yang bermanfaat.
Alasannya berkaitan dengan apa yang terjadi di dalam tubuh setelah makan.
Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?
Ketika seseorang mengonsumsi makanan, terutama makanan yang mengandung karbohidrat, tubuh akan memecahnya menjadi glukosa. Glukosa kemudian masuk ke aliran darah sehingga kadar gula darah meningkat. Kenaikan ini merupakan proses normal setelah makan.
Masalahnya, kadar glukosa setelah makan tidak selalu kembali dengan cepat. Respons tubuh dapat dipengaruhi oleh jenis makanan, jumlah makanan, kondisi metabolisme, serta aktivitas fisik seseorang.
Di sinilah jalan kaki setelah makan bisa berperan.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Bukan Sekadar Bahasa Melayu, Begini Perjalanannya Menjadi Bahasa Persatuan
Ketika berjalan, otot-otot tubuh membutuhkan energi untuk bergerak. Salah satu sumber energi tersebut berasal dari glukosa yang tersedia di dalam darah. Aktivitas fisik ringan setelah makan dapat membantu otot menggunakan glukosa sehingga kenaikan gula darah setelah makan menjadi lebih terkendali.
Karena itu, berjalan kaki tidak harus dilakukan berjam-jam untuk mendapatkan manfaat. Beberapa penelitian mengenai aktivitas setelah makan menunjukkan bahwa berjalan dalam waktu singkat, terutama ketika dilakukan tidak lama setelah makan, dapat membantu mengurangi lonjakan glukosa dibandingkan tetap tidak aktif.
Menariknya, aktivitas tersebut juga tidak harus dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Jalan santai selama beberapa menit dapat menjadi pilihan yang lebih realistis bagi orang yang tidak terbiasa berolahraga. Misalnya, setelah makan malam, seseorang bisa berjalan mengelilingi kompleks rumah, naik-turun lorong kos, atau sekadar berjalan di halaman.
Bahkan, aktivitas tersebut bisa dibuat lebih menyenangkan. Daripada merasa sedang “olahraga”, berjalan bisa dilakukan sambil mendengarkan musik, podcast, atau menonton sesuatu melalui ponsel selama tetap memperhatikan lingkungan sekitar.
Bagi penghuni kos, misalnya, berjalan mengelilingi area kos selama 10 menit setelah makan bisa menjadi cara sederhana untuk menyelipkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas harian. Tidak perlu mengganti pakaian olahraga atau menyiapkan perlengkapan khusus.
Baca Juga: Sering Sulit Fokus atau Mudah Lupa? Kenali Fenomena Brain Fog
Namun, bukan berarti setelah makan seseorang harus langsung berdiri dan berjalan tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh. Jika merasa terlalu kenyang, tidak nyaman, pusing, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, aktivitas perlu disesuaikan. Jalan kaki ringan juga bukan pengganti olahraga rutin yang tetap penting untuk kesehatan secara keseluruhan.
Yang menarik, kebiasaan kecil seperti ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik tidak selalu harus terlihat seperti olahraga. Bergerak selama beberapa menit setelah makan pun dapat menjadi bagian dari gaya hidup aktif.
Jadi, kalau biasanya setelah makan rutinitasnya adalah duduk, rebahan, lalu membuka media sosial sampai lupa waktu, mungkin ada satu kebiasaan kecil yang bisa dicoba.
Tidak perlu langsung menargetkan ribuan langkah. Cukup berjalan selama sekitar 10 menit setelah makan dan lakukan secara konsisten sesuai kemampuan.
Kalau bosan berjalan sendirian, putar lagu favorit atau temani dengan tontonan ringan. Siapa tahu, jalan keliling kos sambil menunggu episode drama Korea berikutnya justru menjadi kebiasaan sehat yang paling mudah dipertahankan. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno