Quiet Vacation, Liburan Diam-Diam yang Mulai Dilirik Pekerja Muda

RADARSOLO.COM - Istilah quiet vacation belakangan mulai ramai dibahas di media sosial dan berbagai platform karier. Sekilas terdengar mirip dengan workcation, tetapi keduanya memiliki makna yang berbeda. Jika workcation berarti tetap bekerja sambil berlibur, quiet vacation justru merujuk pada kebiasaan mengambil waktu istirahat tanpa mengumumkannya kepada rekan kerja secara luas.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya perhatian terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).
Di tengah budaya kerja yang semakin fleksibel dan maraknya sistem kerja jarak jauh (remote working), sebagian pekerja merasa tidak perlu selalu menjelaskan secara detail kapan dan di mana mereka sedang menikmati waktu libur, selama pekerjaan tetap diselesaikan sesuai tanggung jawab.
Menurut laporan LinkedIn Workforce Confidence Survey, semakin banyak pekerja yang memprioritaskan kesehatan mental dan waktu istirahat sebagai bagian dari produktivitas kerja. Liburan tidak lagi dipandang sebagai bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan untuk memulihkan energi agar dapat kembali bekerja dengan lebih optimal.
Berbeda dengan workcation, quiet vacation tidak menggabungkan pekerjaan dan liburan. Pada workcation, seseorang tetap membawa laptop, menghadiri rapat daring, hingga menyelesaikan pekerjaan dari lokasi wisata atau tempat menginap. Sementara itu, quiet vacation lebih menekankan pada pemanfaatan cuti secara tenang tanpa menjadikannya sebagai pengumuman besar di lingkungan kerja atau media sosial.
Baca Juga: Suhu Minus 1 Derajat Celcius Landa Merbabu, Embun Beku Mulai Selimuti Jalur Pendakian Suwanting
Fenomena ini juga berbeda dengan quiet quitting, istilah yang sempat populer beberapa tahun lalu. Quiet quitting mengacu pada kondisi ketika pekerja hanya menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaan tanpa memberikan usaha tambahan di luar kewajibannya.
Adapun quiet vacation lebih berkaitan dengan cara seseorang menikmati waktu istirahat tanpa merasa harus selalu "terlihat bekerja".
American Psychological Association menjelaskan bahwa kebutuhan untuk benar-benar beristirahat merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology menunjukkan bahwa liburan dapat membantu mengurangi tingkat kelelahan (burnout), memperbaiki suasana hati, dan meningkatkan kesejahteraan psikologis.
Namun, manfaat tersebut cenderung berkurang apabila selama liburan seseorang masih terus memeriksa email kantor atau merespons pesan pekerjaan.
Meski demikian, quiet vacation bukan berarti mengambil cuti secara diam-diam tanpa izin. Praktik tersebut tetap harus mengikuti kebijakan perusahaan. Dalam banyak kasus, istilah ini lebih menggambarkan pilihan sebagian pekerja untuk tidak merasa berkewajiban membagikan aktivitas liburan kepada semua rekan kerja, terutama jika perusahaan telah memiliki sistem cuti yang jelas dan transparan.



